Detak Media — JAKARTA – Kondisi tubuh yang langsing atau ramping tidak selalu menjadi penjamin bebas dari risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Terutama jika individu tersebut mengalami gangguan metabolik dislipidemia, yang ditandai dengan tingginya kadar kolesterol jahat (LDL-C).
“Masyarakat kita banyak yang mempercayai, kurus berarti aman. Kurus berarti kolesterolnya tidak tinggi. Padahal, tubuh kurus atau langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat dan aman dari penyakit jantung,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) Dr dr Susetyo Atmojo, Sp.JP dalam sebuah paparan yang digelar PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Studi kohort berskala besar yang dilakukan di Amerika Serikat, Eropa, dan wilayah lainnya turut menunjukkan temuan serupa. Sekitar 23,5% orang dewasa dengan berat badan normal, namun memiliki faktor risiko metabolik, menghadapi risiko penyakit kardiovaskular dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan individu dengan berat badan serupa yang metaboliknya sehat. Temuan ini tertuang dalam Nurses’ Health Study serta kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia pada 2019 dan Endocrinology & Metabolism pada 2020.
Risiko ini menjadi perhatian khusus bagi populasi Asia. Dibandingkan dengan populasi Barat, orang Asia cenderung mengalami penumpukan lemak visceral meskipun pada berat badan yang lebih rendah. Sebuah studi diabetes pada populasi Asia yang dikutip dalam jurnal internasional Metabolism pada 2016 menunjukkan bahwa orang dewasa Asia dengan diabetes memiliki peluang lima kali lebih besar memiliki tubuh langsing dibandingkan mengalami obesitas.
Fakta menariknya, menurut dr Susetyo, hampir satu dari empat orang bertubuh kurus menyimpan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. “Jadi dalam kelompok populasi orang-orang kurus, kita kelompokin dari 24 orang dengan berat badan normal, 6 diantaranya ternyata setelah dicek memiliki sekumpulan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, atau sekumpulan faktor risiko kardiovaskular karena memiliki kandungan kolesterol jahat yang tinggi,” ungkap dr Susetyo.
Temuan ini menegaskan bahwa berat badan maupun penampilan fisik tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran kesehatan metabolik. Ada beberapa faktor yang menyebabkan tubuh kurus namun memiliki kadar kolesterol LDL-C yang tinggi di atas 70 mg/dL.
Pertama adalah faktor keturunan atau genetik. “Banyak sifat bawaan atau genetik yang diam-diam menaikkan kadar kolesterol jahat,” ujar dr Susetyo.
Kedua, cara memasak. “Cara masak digoreng menggunakan minyak kelapa, minyak sawit, dan makanan yang selalu digoreng akan membuat kadar kolesterol jahat menumpuk,” jelasnya.
Ketiga, kurang bergerak atau berolahraga. “Jarang bergerak akan mengubah gula dalam tubuh menjadi kolesterol jahat, meskipun berat badan tidak naik,” jelas dr Susetyo.
Keempat, penumpukan lemak di perut atau lemak visceral akan meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyakit jantung. Dr Susetyo menjelaskan bahwa seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang normal, tetapi menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh. Kondisi ini sering disebut sebagai obesitas pada berat badan normal.
“Penumpukan lemak visceral dapat memicu resistensi insulin serta meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida,” jelas dr Susetyo.
Terapi Kombinasi untuk Atasi Dislipidemia
Agar tidak terperangkap dalam anggapan bahwa tubuh kurus itu aman, dr Susetyo menyarankan setiap orang untuk melakukan pemeriksaan kadar kolesterol. “Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat. Karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat penting,” lanjutnya.
Pedoman terkini merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan sedikitnya 50% dari kadar awal. “Pada kelompok pasien tersebut berlaku prinsip ‘semakin rendah, semakin baik’. Berbagai bukti klinis menunjukkan bahwa semakin rendah kadar LDL-C yang dicapai, semakin rendah pula risiko serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa dislipidemia seringkali tidak menimbulkan keluhan yang dirasakan secara langsung. Oleh karena itu, orang dengan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular, diabetes, atau hipertensi perlu menjalani pemeriksaan profil lipid secara rutin untuk memantau kadar kolesterol dan risiko kardiovaskularnya.
Dalam penanganannya, terapi kombinasi yang bekerja melalui dua jalur menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi keterbatasan terapi tunggal dan mengoptimalkan penurunan LDL-C. “Pendekatan ini menggabungkan statin, yang menghambat pembentukan kolesterol di hati, dengan ezetimibe, yang mengurangi penyerapan kolesterol di usus,” jelas dr Susetyo.
Menurut dr. Wicak Prasetiadi, Head of Brand and Marketing Daewoong, kombinasi kedua zat aktif tersebut dalam satu tablet dapat memberikan efek penurunan LDL-C yang kuat sekaligus mengurangi kebutuhan penggunaan statin dosis tinggi. “Bentuk kombinasi dosis tetap juga memudahkan pasien dalam mengonsumsi obat dan membantu menjaga kepatuhan terhadap terapi. Hal ini penting bagi pasien yang membutuhkan perlindungan kardiovaskular dalam jangka panjang,” kata dr Wicak.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.