— JAKARTA – Indonesia mencatat sejarah baru di dunia medis dengan keberhasilan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) CoreHeart 6 di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Perangkat bantu jantung berukuran terkecil di dunia ini menandai implantasi pertama di Asia menggunakan teknologi tersebut, membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang memiliki pilihan terapi terbatas.

Keberhasilan ini dinilai signifikan mengingat tantangan besar dalam transplantasi jantung akibat keterbatasan donor dan tenaga ahli. Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, menyatakan bahwa teknologi LVAD merupakan lompatan besar dalam penanganan gagal jantung kronis. “Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujar Azhar.

Azhar menambahkan, keberhasilan tim RSCM membuktikan kemampuan Indonesia menguasai teknologi medis kelas dunia. Ia menekankan pentingnya transfer pengetahuan teknologi ini kepada lebih banyak tenaga kesehatan di Indonesia agar semakin banyak pasien yang dapat diselamatkan.

Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo, menyebut implantasi LVAD CoreHeart 6 sebagai tonggak baru layanan jantung nasional dan bukti kepercayaan internasional terhadap kemampuan medis Indonesia. Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM, Birry Karim, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja tim multidisiplin yang solid, mencakup dokter spesialis jantung, bedah jantung, anestesi, intensif, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya.

Program penanganan gagal jantung lanjut di RSCM telah dirintis sejak 2017 melalui pembentukan layanan khusus heart failure yang berkembang menjadi sistem pelayanan terpadu. “Penanganan gagal jantung lanjut memang harus dilakukan secara multidisiplin,” ujar Birry.

Pasien pertama yang menjalani implantasi menunjukkan perkembangan positif, berhasil dilepas dari ventilator dalam 24 jam pascaoperasi dan mulai menjalani latihan mobilisasi. Meskipun tim medis masih memantau ketat risiko pascaoperasi seperti infeksi dan perdarahan, kondisi pasien terus membaik. “Ini menjadi milestone penting bagi pengembangan layanan gagal jantung di Indonesia,” kata Birry.

Pemerintah berharap keberhasilan implantasi LVAD pertama di Asia ini menjadikan Indonesia sebagai pusat inovasi, pendidikan, dan rujukan layanan gagal jantung di kawasan Asia. Azhar Jaya menuturkan, “Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat rehabilitasi kardiovaskular di kawasan Asia, termasuk mengembangkan layanan cardiac longevity resort di destinasi seperti Bali dan Lombok.”

Kementerian Kesehatan mendorong kolaborasi internasional untuk mempercepat transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter, dan inovasi layanan. “Kami ingin menjadi pemain utama dalam pengembangan teknologi kesehatan, bukan hanya pengguna,” tegas Azhar.

Supriyanto berharap kerja sama dengan HeartSpan.ai dapat menjadikan RSCM sebagai pusat pelatihan (training center) teknologi LVAD di Asia. Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, menyatakan bahwa keberhasilan ini adalah pembangunan ekosistem layanan gagal jantung secara menyeluruh, meliputi donasi perangkat, pelatihan, transfer pengetahuan, hingga pengembangan sistem layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).

HeartSpan.ai juga tengah mengembangkan teknologi LVAD tanpa kabel (wireless charging) yang ditargetkan tersedia tahun depan untuk mengurangi risiko infeksi. Teknologi CoreHeart 6 sendiri telah digunakan pada lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok, bahkan pada sebagian pasien, fungsi jantung kembali membaik sehingga perangkat dapat dilepas setelah dua hingga tiga tahun.