Detak Media — JAKARTA – Teknologi Left Ventricular Assist Device (LVAD) menjadi terobosan baru dalam penanganan gagal jantung stadium lanjut di Indonesia, memberikan harapan hidup yang lebih baik bagi pasien yang sebelumnya memiliki pilihan terapi sangat terbatas.
Gagal jantung merupakan kondisi kesehatan yang prevalensinya terus meningkat. Di Indonesia, data Global Burden of Disease (GBD) 2019 mencatat sekitar 900-1.000 kasus per 100.000 penduduk, dengan angka mortalitas tertinggi di Asia mencapai 34,1%. Hal ini mendorong pengembangan terapi yang lebih komprehensif, terutama untuk stadium lanjut.
LVAD adalah alat bantu pompa jantung yang dipasang melalui operasi untuk membantu ventrikel kiri memompa darah ke seluruh tubuh. Teknologi ini telah terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang harapan hidup pasien.
“Pada pasien gagal jantung stadium lanjut, otot jantung sudah sangat lemah sehingga tidak lagi mampu memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh. Selama ini, kondisi seperti ini umumnya ditangani dengan transplantasi jantung. Namun, transplantasi jantung memiliki keterbatasan yang sangat besar karena bergantung pada ketersediaan donor. Kini terdapat teknologi yang disebut Left Ventricular Assist Device (LVAD),” kata Direktur Utama RSCM, DR Dr Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes, saat menerima donasi alat LAVD dari HeartSPAN.ai di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Bekerja Seperti Pompa
Dr. Supriyanto menjelaskan bahwa LVAD bekerja dengan membantu fungsi bilik kiri jantung. Perangkat ini berfungsi layaknya pompa yang mengambil alih tugas bilik kiri untuk memompa darah ke aorta dan selanjutnya ke seluruh tubuh. “Dengan demikian, pasien tidak lagi harus bergantung pada transplantasi jantung sebagai satu-satunya pilihan terapi,” jelasnya.
Masa pakai perangkat ini dapat mencapai lebih dari sembilan tahun, dan komponennya dapat diganti jika diperlukan. Kehadiran teknologi ini menjadi harapan baru bagi pasien gagal jantung di Indonesia yang sebelumnya memiliki pilihan terapi yang sangat terbatas.
Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular konsultan jantung dewasa, Dr. dr. M. Arza Putra, Sp.BTKV, Subsp.JD(K), menambahkan bahwa LVAD memiliki arti penting. “Sebelumnya, pasien gagal jantung stadium akhir hanya memiliki pilihan transplantasi jantung, sedangkan donor jantung sangat sulit diperoleh. Berbeda dengan ginjal atau sebagian hati yang dapat didonorkan oleh pendonor hidup, donor jantung hanya dapat berasal dari seseorang yang telah dinyatakan meninggal dunia dengan kematian batang otak,” jelas dr. Arza.
Awalnya, LVAD dikembangkan sebagai bridge to transplant, yaitu terapi penyangga sambil menunggu donor jantung. Namun, karena donor semakin langka, banyak pusat layanan jantung di dunia kini menjadikan LVAD sebagai destination therapy, yaitu terapi jangka panjang yang memungkinkan pasien hidup bertahun-tahun dengan alat tersebut tanpa harus menjalani transplantasi.
Tonggak Penting Implementasi LVAD
Pada tahap awal implementasi di Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) akan melakukan pemasangan LVAD pertama kepada seorang pasien perempuan berusia 45 tahun dengan fungsi pompa jantung 14%, yang mengalami sesak napas saat aktivitas ringan dan telah beberapa kali dirawat akibat gagal jantung. “Langkah ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan gagal jantung lanjut di RSCM serta membuka harapan baru bagi pasien yang membutuhkan terapi mekanik jantung,” kata dr. Supriyanto.
Penggunaan LVAD di Indonesia masih tergolong baru. Beberapa pasien Indonesia memang telah menjalani implantasi LVAD, namun sebagian besar dilakukan di Singapura menggunakan perangkat generasi sebelumnya yang berukuran lebih besar. “Adapun perangkat generasi terbaru yang lebih kecil ini bahkan belum tersedia di Singapura. Indonesia menjadi salah satu negara pertama di luar Tiongkok yang akan menggunakannya,” ungkap dr. Supriyanto.
Kolaborasi Inovasi dan Terapi Regeneratif
Pendiri dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSPAN.ai, Dr. Wei Siang Yu, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan RSCM memadukan inovasi teknologi medis, pertukaran pengetahuan lintas negara, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam tata laksana gagal jantung.
“Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan baru dalam penanganan gagal jantung stadium lanjut, mulai dari pemilihan pasien yang presisi, implantasi perangkat LVAD berukuran kecil dan ringan, hingga pendampingan pascaoperasi oleh LVAD Coordinator yang dilatih berdasarkan protokol internasional,” ujar Dr. Wei.
Salah satu keunggulan penting teknologi LVAD adalah potensinya untuk dilepas di kemudian hari seiring perkembangan terapi regeneratif. “Ke depan, perkembangan terapi regeneratif, termasuk terapi stem cell, diharapkan dapat semakin meningkatkan peluang pemulihan fungsi jantung pasien,” tutur Dr. Wei Siang Yu.
Evolusi LVAD telah berkembang melalui beberapa tahap. Awalnya sebagai bridge therapy, selanjutnya menjadi destination therapy. Kini, dengan ukuran alat yang semakin kecil dan perkembangan terapi sel punca, LVAD memasuki tahap baru, yaitu membantu jantung memperbaiki dirinya sendiri. Setelah dua hingga tiga tahun, sebagian pasien berpotensi mengalami pemulihan fungsi jantung sehingga perangkat dapat dilepas.
“Dengan demikian, LVAD tidak lagi sekadar menjadi alat bantu permanen, tetapi juga menjadi bagian dari terapi regeneratif yang memungkinkan jantung kembali berfungsi secara alami. Ini merupakan terobosan besar dalam penanganan gagal jantung stadium lanjut,” jelas Dr. Wei.
Dr. Supriyanto menambahkan bahwa saat ini di dunia mulai dikembangkan kombinasi LVAD dengan terapi sel punca (stem cell). “Harapannya, setelah beberapa tahun menggunakan LVAD, otot jantung dapat beregenerasi sehingga fungsi jantung kembali membaik. Jika hal itu tercapai, perangkat LVAD dapat dilepas dan jantung pasien dapat kembali bekerja secara normal. Pendekatan ini merupakan arah pengembangan terapi gagal jantung di masa depan,” harapnya.
Namun, jika fungsi jantung belum pulih, pasien tetap dapat menggunakan LVAD dalam jangka panjang karena perangkat ini terbukti memiliki daya tahan yang sangat baik. Komponen yang umumnya perlu diganti hanyalah baterai eksternal, sedangkan perangkat di dalam tubuh tidak perlu diganti kecuali ada kondisi tertentu.
Cegah Berobat ke Luar Negeri
Pengembangan layanan LVAD di RSCM diharapkan memperkuat kemampuan bedah jantung dan pelayanan lanjutan di Indonesia. Sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan kualitas layanan kesehatan dalam negeri, pengembangan teknologi dan kompetensi ini diharapkan dapat mengurangi kebutuhan masyarakat untuk mencari pengobatan ke luar negeri serta memperkuat kemandirian layanan kesehatan nasional.
Melalui kolaborasi ini, RSCM menegaskan komitmennya sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk terus menghadirkan inovasi, memperkuat jejaring global, serta mengembangkan layanan kesehatan berstandar internasional demi memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Indonesia.
“Ke depan, RSCM juga diharapkan menjadi pusat pelatihan bagi dokter bedah jantung dari seluruh Indonesia agar mampu melakukan implantasi LVAD, sehingga akses masyarakat terhadap terapi ini semakin luas dan angka harapan hidup pasien dapat meningkat,” ujar dr. Supriyanto.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.