Detak Media — Prevalensi balita stunting di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, masih tercatat tinggi sebesar 30,2%, melampaui angka rata-rata provinsi Kalimantan Barat (26,8%) dan nasional (19,8%). Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat upaya pencegahan yang berfokus pada masyarakat, mulai dari pendampingan keluarga, edukasi gizi, hingga pemanfaatan pangan lokal.
Upaya penanganan dilakukan melalui Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting (PASTI) di Indonesia, sebuah kemitraan antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dengan sektor swasta, yang dilaksanakan oleh Wahana Visi Indonesia. Program ini menitikberatkan pada pencegahan dan penurunan stunting, khususnya melalui penguatan keluarga pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), peningkatan kapasitas kader, serta intervensi gizi berbasis komunitas.
Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menyambut baik berbagai pendekatan yang telah diterapkan dan berharap keberhasilannya dapat direplikasi di wilayah lain. “Kami berharap dampak yang dihasilkan nantinya dapat direplikasi di wilayah-wilayah lain sehingga dapat semakin menurunkan angka stunting di seluruh Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan program dari 2025 hingga semester I 2026, sebanyak 1.188 orang tua yang memiliki bayi di bawah dua tahun dan ibu hamil telah mengikuti kegiatan edukasi bagi keluarga berisiko stunting dan keluarga dalam periode 1.000 HPK. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa 1.137 peserta atau 95,7% peserta menunjukkan pemahaman yang baik mengenai stunting.
Selain itu, program ini juga melatih 67 kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) pada 2025. Pada semester I 2026, sebanyak 52 kader mengikuti pelatihan penyegaran untuk memastikan pendampingan keluarga berisiko berjalan secara berkala. Direktur Bina Lini Lapangan Kemendukbangga, Nurizky Permanajati, menekankan pentingnya keterlibatan berbagai kelompok masyarakat, termasuk generasi muda, dalam pencegahan stunting. Ia menambahkan bahwa edukasi kepada remaja sangat diperlukan karena mereka adalah calon orang tua yang akan menentukan kesehatan generasi penerus. “Keterlibatan mereka memastikan risiko stunting tidak diturunkan ke generasi selanjutnya,” katanya.
Program ini juga mencakup edukasi gizi dan pencegahan anemia kepada 33 Duta Generasi Berencana (GenRe) di tingkat desa dan kecamatan, yang kemudian berperan sebagai edukator sebaya. Kampanye lanjutan yang dilakukan para Duta GenRe berhasil menjangkau 460 remaja berusia 15-19 tahun.
Intervensi Gizi Berbasis Komunitas
Pencegahan stunting di Kubu Raya juga diimplementasikan melalui Pos Gizi DASHAT di 20 desa dan kelurahan. Kegiatan ini meliputi pemberian makanan bergizi, edukasi pola asuh, serta pemanfaatan bahan pangan lokal. Pada semester I 2026, kegiatan ini melibatkan 290 bayi di bawah usia dua tahun dan 159 ibu hamil yang berisiko mengalami kekurangan energi kronis (KEK) atau telah mengalami KEK.
Salah seorang peserta, Susanti, mengungkapkan bahwa pendampingan tersebut sangat membantunya dalam menyediakan variasi menu makanan untuk anaknya yang sebelumnya sulit mengalami kenaikan berat badan. “Setelah mengikuti kegiatan ini, berat anak saya naik hingga 800 gram. Saya belajar berbagai menu dan mencoba mempraktikkannya di rumah,” tuturnya.
Namun, keberhasilan pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada pemberian makanan. Faktor pola asuh, kondisi kesehatan ibu, sanitasi, akses layanan kesehatan, kondisi ekonomi, serta ketersediaan pangan bergizi juga memegang peranan penting dalam mengatasi masalah gagal tumbuh pada anak. Program Manager PASTI, Hotmianida Panjaitan, menegaskan bahwa stunting tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan internal keluarga. Ia menjelaskan bahwa faktor eksternal seperti ekonomi, pendidikan, akses terhadap bahan pangan bergizi, hingga perkawinan usia anak turut berpengaruh terhadap risiko gangguan tumbuh kembang. “Selain latar belakang ekonomi dan edukasi, faktor eksternal turut menjadi penyebab masalah kegagalan tumbuh kembang anak,” imbuhnya.
Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal
Di tingkat desa, upaya pencegahan juga dikembangkan melalui pemanfaatan pekarangan untuk kebun gizi dan budidaya ayam petelur. Masyarakat menanam berbagai jenis pangan lokal seperti terong, kangkung, kacang panjang, bayam, gambas, dan cabai. Budidaya ayam petelur mampu menghasilkan rata-rata 17-20 butir telur per hari.
Inisiatif ini bertujuan untuk memperluas akses keluarga terhadap sumber pangan bergizi sekaligus mendukung keberlanjutan intervensi di tingkat rumah tangga. Program ini juga memperkuat pemanfaatan data melalui pelatihan bagi 46 perwakilan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) desa dan kelurahan serta empat perwakilan TPPS kecamatan pada 2025.
Head of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Michael Susanto, menekankan pentingnya pencegahan sejak periode awal kehidupan. Menurutnya, 1.000 HPK adalah fase krusial bagi perkembangan anak, sehingga intervensi pada periode tersebut perlu diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat.
Pendekatan berbasis masyarakat di Kubu Raya ini diharapkan dapat menjadi model yang dapat dievaluasi dan direplikasi di wilayah lain jika terbukti efektif. Penguatan pencegahan stunting dinilai membutuhkan intervensi berkelanjutan, tidak hanya terbatas pada edukasi gizi, tetapi juga perbaikan akses pangan, layanan kesehatan ibu dan anak, sanitasi, pendampingan keluarga, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.