Detak Media — Perkembangan teknologi bedah jantung kini membuka harapan baru bagi pasien penyakit jantung koroner di Indonesia. Jika selama ini operasi bypass identik dengan sayatan besar di dada atau bahkan harus dilakukan di luar negeri, kini tindakan tersebut dapat dilakukan melalui teknik bedah minimal invasif di dalam negeri dengan masa pemulihan yang lebih singkat.
Penyakit jantung masih menjadi salah satu tantangan terbesar di bidang kesehatan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85% pada seluruh kelompok usia. Salah satu kondisi yang paling sering membutuhkan tindakan operasi adalah penyakit jantung koroner, yaitu penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak.
Penyumbatan tersebut menyebabkan aliran darah dan oksigen menuju otot jantung berkurang. Akibatnya, pasien dapat mengalami nyeri dada, sesak napas, cepat lelah, gangguan irama jantung, hingga serangan jantung. Pada kondisi tertentu, ketika penyumbatan tidak lagi dapat diatasi dengan obat-obatan maupun pemasangan stent, operasi bypass membuka penyempitan menjadi pilihan untuk mengembalikan aliran darah ke jantung.
Bedah Jantung Tanpa Membelah Tulang Dada
Selama bertahun-tahun, operasi bypass jantung dilakukan melalui metode bedah dada terbuka. Dokter harus membelah tulang dada agar dapat mengakses jantung secara langsung sebelum membuat jalur baru bagi aliran darah menggunakan pembuluh darah sehat dari bagian tubuh lain.
Metode tersebut telah lama menjadi standar dalam penanganan penyakit jantung koroner. Namun, karena luka operasi relatif besar, pasien umumnya membutuhkan masa pemulihan lebih lama sebelum dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Perkembangan teknologi bedah kemudian menghadirkan pendekatan yang lebih minimal invasif melalui teknik MICS CABG. Pada prosedur ini, dokter tetap membuat jalur baru untuk melewati pembuluh darah yang tersumbat, tetapi tindakan dilakukan melalui sayatan kecil di sela tulang rusuk sehingga tulang dada tidak perlu dibelah.
Pendekatan tersebut membantu mengurangi trauma jaringan, menekan nyeri pascaoperasi, serta mempercepat proses pemulihan. Dengan kondisi fisik yang pulih lebih cepat, pasien memiliki peluang untuk kembali beraktivitas dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan operasi bypass konvensional.
Salah satu rumah sakit yang mengembangkan layanan tersebut adalah Mitra Keluarga Kelapa Gading. Dalam satu tahun terakhir, rumah sakit ini telah menangani lebih dari 100 pasien penyakit jantung koroner melalui prosedur Minimally Invasive Cardiac Surgery Coronary Artery Bypass Graft (MICS CABG). Capaian tersebut memperkuat posisi Mitra Keluarga Kelapa Gading sebagai salah satu rumah sakit swasta yang berpengalaman dalam layanan bedah jantung minimal invasif di Indonesia.
Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Konsultan Jantung Dewasa Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), mengatakan bahwa MICS CABG memungkinkan operasi bypass dilakukan tanpa sayatan besar pada dada sehingga proses pemulihan pasien berlangsung lebih cepat. “Kalau minimal invasif, pasien bisa lima hari pulang dari rumah sakit, kemudian beraktivitas seperti biasa,” ujar dr Wirya.
Senada dengan itu, Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular dr Marolop Pardede, Sp.BTKV, Subsp. VE (K), MH, menjelaskan bahwa pendekatan minimal invasif tetap memungkinkan dokter melakukan bypass pada seluruh pembuluh darah koroner yang mengalami penyumbatan. “Dibandingkan operasi konvensional, dengan MICS CABG semua pembuluh darah bisa dilakukan bypass walau dengan luka yang sangat kecil sekitar 7–8 sentimeter,” ujar dr. Marolop.
Pemulihan Lebih Cepat, Kualitas Hidup Meningkat
Manfaat pendekatan minimal invasif tidak hanya terlihat dari sisi medis, tetapi juga dirasakan langsung oleh pasien. Waktu pemulihan yang lebih singkat memungkinkan pasien kembali beraktivitas lebih cepat dibandingkan operasi bypass konvensional.
Salah satu pasien, Novi Cahyono (57), mengaku sempat terkejut saat didiagnosis mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner dan harus menjalani operasi bypass. Namun, tiga bulan setelah menjalani MICS CABG, ia sudah dapat kembali berolahraga ringan.
“Tiga bulan setelah operasi, saya sangat bersyukur sudah bisa beraktivitas normal, olahraga kecil seperti jalan pagi dan lari-lari kecil. Operasi ini tidak hanya menyelamatkan jantung saya, tetapi juga membuat kualitas hidup saya menjadi lebih baik,” ujar Novi.
Pengalaman serupa dirasakan Gwie Yu Gwan (64). Setelah sempat mempertimbangkan menjalani operasi di luar negeri, ia memilih menjalani MICS CABG di Mitra Keluarga Kelapa Gading. Menurutnya, operasi berjalan lancar dan proses pemulihan berlangsung lebih nyaman dari yang dibayangkan.
“Setelah operasi tidak terlalu sakit, tidak ada keluhan. Semakin hari kondisi saya semakin enak,” ujar Gwie.
Tak Perlu ke Luar Negeri
Keberhasilan menangani lebih dari 100 tindakan MICS CABG dalam satu tahun terakhir di Mitra Keluarga Kelapa Gading menjadi bukti bahwa layanan bedah jantung minimal invasif kini dapat diakses masyarakat Indonesia tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri. Melalui Heart & Vascular Center, rumah sakit menghadirkan layanan mulai dari deteksi dini, diagnosis, tindakan bedah, hingga rehabilitasi pasien.
Direktur Regional III Mitra Keluarga, dr Ronald Reagen, MM, MARS, mengatakan perkembangan layanan bedah jantung di Indonesia memberikan lebih banyak pilihan bagi pasien penyakit jantung koroner untuk mendapatkan terapi dengan standar pelayanan yang baik di dalam negeri.
“Sekarang masyarakat Indonesia yang mengalami masalah jantung koroner tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menjalani operasi bypass tanpa sayatan ini. Prosedur tersebut sudah bisa dilakukan di Indonesia dan salah satu fasilitas kesehatan yang menjadi pionir serta berpengalaman menangani operasi bypass jantung minimal invasif adalah Mitra Keluarga Kelapa Gading,” ujar dr Ronald Reagen.
Menurutnya, layanan tersebut didukung tim dokter bedah jantung yang memiliki kompetensi di bidang operasi bypass minimal invasif, yaitu dr Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), dr Marolop Pardede, Sp.BTKV, Subsp. VE (K), MH, serta dr Bimo Kusumo, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), FIATCVS, FICS, MARS. Kehadiran tim multidisiplin menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan yang menyeluruh kepada pasien.
Selain menghadirkan kemudahan akses, menjalani pengobatan di dalam negeri juga memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya. Pasien tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk perjalanan maupun akomodasi selama menjalani pengobatan di luar negeri. Hal ini sekaligus memudahkan keluarga untuk mendampingi pasien selama proses perawatan hingga pemulihan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.