— Enesis Group, melalui merek losion anti-nyamuk Soffell, menyelenggarakan rangkaian kegiatan ASEAN Dengue Day 2026. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi mengenai pencegahan demam berdarah dengue (DBD) sejak usia dini, dengan tema “Indonesia Pionir Gerakan Bebas Dengue di ASEAN”. Rangkaian acara mencakup sesi edukasi di sekolah-sekolah hingga acara puncak yang diselenggarakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk mendukung target Indonesia mencapai Zero Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030. Enesis Group secara aktif melibatkan pemerintah dan institusi pendidikan guna memperluas penerapan langkah-langkah promotif dan preventif dalam penanggulangan DBD.

Sebagai bagian dari roadshow edukasi, Enesis Group mengunjungi beberapa sekolah dasar di Jakarta, termasuk SDN 03 dan 05 Tanah Tinggi, SDN 20 Utan Kayu Selatan, serta SDN 02 Mampang Prapatan. Siswa-siswi berpartisipasi dalam kegiatan interaktif yang menekankan pentingnya pencegahan DBD di lingkungan sekolah, rumah, maupun area sekitar.

Fokus edukasi pada kegiatan ini meliputi penerapan Gerakan 3M+, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, dan mendaur ulang barang-barang yang tidak terpakai. Selain itu, para siswa juga dikenalkan dengan cara melindungi diri dari gigitan nyamuk, salah satunya dengan menggunakan losion anti-nyamuk.

Rangkaian kegiatan ini mencapai puncaknya pada acara ASEAN Dengue Day 2026 yang bertempat di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dalam acara tersebut, Enesis Group berkolaborasi erat dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Kolaborasi lintas sektor ini dirancang untuk memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat luas, sekaligus memperkuat dukungan terhadap target nasional Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada 2030. Pemerintah memandang bahwa penanggulangan DBD memerlukan keterlibatan dari berbagai elemen, tidak terbatas hanya pada sektor kesehatan.

Agus Handito, perwakilan Direktorat Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, menyatakan bahwa DBD masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Oleh karena itu, program pencegahan harus melibatkan partisipasi aktif dari pemerintah daerah, dunia pendidikan, akademisi, organisasi profesi, masyarakat sipil, serta mitra pembangunan.

“Keberhasilan penanggulangan dengue tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Dibutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, dan seluruh mitra pembangunan,” ujar Agus dalam keterangannya, Rabu (5/8/2026).

Ia menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif yang berbasis bukti ilmiah harus menjadi landasan dalam setiap pelaksanaan program pencegahan DBD. Pendekatan semacam ini krusial untuk mendukung pencapaian target Indonesia Zero Kematian Akibat Dengue pada 2030.

Acara puncak juga dimeriahkan dengan demonstrasi penggunaan losion anti-nyamuk Soffell untuk perlindungan dari gigitan nyamuk. Demonstrasi ini dilakukan oleh figur publik Ririn Ekawati bersama putrinya, Abigail Cattleya Putri.

Dalam sesi demonstrasi, Ririn dan Abigail memasukkan tangan mereka ke dalam sebuah kotak yang berisi nyamuk setelah mengoleskan losion anti-nyamuk pada kulit mereka. Hasilnya, selama proses demonstrasi berlangsung, tidak terlihat adanya nyamuk yang menggigit tangan keduanya.

Demonstrasi ini disajikan sebagai bagian dari upaya edukasi mengenai pentingnya perlindungan diri dari gigitan nyamuk sebagai salah satu langkah pencegahan primer terhadap DBD. Perlu dicatat bahwa kegiatan ini berbentuk demonstrasi dalam rangkaian acara, bukan penelitian klinis yang bertujuan mengukur efektivitas produk secara ilmiah.

Ririn dan Abigail juga turut serta dalam sesi bincang-bincang yang membahas kebiasaan hidup sehat dan peran penting keluarga dalam pencegahan penyakit. Keduanya berbagi pengalaman mengenai strategi menanamkan kesadaran pencegahan DBD kepada anak sejak usia dini.

RM Ardiantara, Head of Human Resources, Services and Public Relations Enesis Group, menyampaikan harapannya agar Gerakan 3M+ dapat menjadi kebiasaan yang tertanam dan diterapkan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat. Penerapan gerakan ini diharapkan tidak hanya terbatas pada momen kegiatan edukasi atau peringatan ASEAN Dengue Day.

“Kami berharap Gerakan 3M+ tidak hanya menjadi jargon, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan di sekolah, di rumah, dan di lingkungan masyarakat,” tutur Ardiantara.

Sebagai perusahaan Indonesia yang telah memperluas jangkauannya ke sejumlah negara ASEAN, Enesis Group berharap gerakan pencegahan yang dimulai dari Indonesia ini dapat menginspirasi dan mendorong inisiatif serupa di seluruh kawasan. Perusahaan berkomitmen untuk terus melanjutkan program edukasi dan kolaborasi lintas sektor dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat.