— Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan diplomatik dengan Iran akan segera dimulai. Keputusan ini diambil setelah Trump membatalkan rencana serangan militer mendadak terhadap Iran, dengan harapan dapat membuka jalan bagi kesepakatan cepat. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz dan menyelesaikan perdebatan terkait kemampuan nuklir Iran.

Melalui platform Truth Social, Trump menyebut Iran dan sejumlah negara Timur Tengah telah meminta waktu untuk merampungkan kesepakatan. Kesepakatan ini diharapkan dapat memicu pembukaan Selat Hormuz secara segera, menyeluruh, dan total, sekaligus mengakhiri ancaman nuklir Iran. Trump menegaskan bahwa pihak Iran harus “bergerak cepat mencapai KESEPAKATAN”. Saat tiba di Washington, Trump mengonfirmasi kepada awak media bahwa negosiasi akan dimulai pada Senin siang waktu setempat, meskipun ia belum membeberkan rincian lokasi maupun pihak-pihak yang terlibat secara langsung.

Trump enggan memberikan jawaban pasti mengenai tenggat waktu bagi Iran. “Apakah saya lebih memilih membuat kesepakatan? Saya tidak ingin membunuh orang karena banyak jiwa yang bisa melayang, dan kita tidak menginginkan hal itu terjadi,” ujar Trump.

Pasang Surut Konflik dan Imbas Ekonomi Global

Ancaman eskalasi perang meluas sejak Trump memulai operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Kendati berulang kali mengancam akan memperluas serangan, Trump kerap memberi ruang tambahan untuk negosiasi yang hingga kini belum menghasilkan kesepakatan komprehensif. Langkah de-eskalasi mendadak dari Trump ini menjadi babak baru dalam dinamika konflik. Sebelumnya, rentetan serangan telah meluas dari kawasan Teluk hingga ke Laut Merah, bahkan menghantam fasilitas di Laut Tengah wilayah Mesir.

Aksi Iran yang memblokir Selat Hormuz, jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, sempat memicu lonjakan harga energi dan melipatgandakan laju inflasi global. Meskipun Trump berargumen bahwa tingginya harga bahan bakar sepadan dengan upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir, tekanan ekonomi domestik mendorong AS untuk segera mengakhiri konflik. Kabar mengenai rencana negosiasi ini langsung direspons positif oleh pasar, dengan harga minyak dunia tercatat merosot lebih dari 4% pada awal perdagangan Senin.

Sinyal Diplomasi dan Sikap Keras Israel

Media pemerintah Iran melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan serta Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir guna membahas langkah-langkah diplomatik. Kantor berita IRNA melaporkan negosiasi antara Iran dan Oman terkait Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengklarifikasi pembahasan tersebut hanya berfokus pada pengaturan rute baru di selat tersebut.

“Hal ini tidak ada hubungannya dengan dibuka atau ditutupnya Selat Hormuz. Itu adalah pembahasan yang terpisah,” tegas Baghaei. Sementara itu, Menteri Energi Israel Eli Cohen menegaskan bahwa koordinasi intelijen dan keamanan antara Israel dan AS tetap terjalin sangat erat. Pihaknya menyatakan tidak akan tinggal diam jika Iran kembali mengembangkan program nuklirnya.

“Dengan atau tanpa kesepakatan, dan terlepas dari komitmen eksternal apa pun, jika Iran mencoba memperbarui program nuklir atau memajukan industri rudal balistiknya, kami akan bertindak dan melakukan serangan,” tegas Cohen. Adapun Iran secara konsisten membantah tuduhan pihaknya tengah mengembangkan senjata nuklir.

Eskalasi konflik di kawasan Teluk meningkat tajam sejak operasi militer bersama AS dan Israel diluncurkan pada Februari 2026. Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran menjadi kartu truf diplomasi Iran yang berdampak langsung pada rantai pasok energi global dan kestabilan ekonomi dunia. Pilihan Trump untuk menempuh jalur negosiasi mencerminkan tingginya tekanan politik dan ekonomi yang dihadapi Washington akibat lonjakan harga bahan bakar global. Kendati demikian, dengan masih kerasnya sikap militer Israel dan rumitnya penataan rute maritim di Selat Hormuz, prospek kesepakatan damai yang permanen di kawasan tersebut masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.