Detak Media — BANG KRUAI – Seorang pelajar berusia 14 tahun dilaporkan tewas setelah melakukan serangkaian penembakan di rumah dan sekolah di pinggiran Bangkok, Thailand, pada Jumat (07/08/2026). Aksi brutal ini menewaskan sedikitnya tujuh orang sebelum pelaku mengakhiri hidupnya sendiri.
Menurut keterangan kepolisian, pelaku memulai aksinya dengan menembak mati kakek dan neneknya di kediaman mereka. Setelah itu, ia mendatangi Sekolah Debsirin Nonthaburi yang berlokasi di wilayah barat laut Bangkok. Di sana, pelaku melepaskan tembakan yang menyasar guru dan staf sekolah.
Lima korban tewas di lingkungan sekolah seluruhnya adalah guru dan staf. Kepolisian mengonfirmasi bahwa pelaku menggunakan senjata api milik kakeknya dan melepaskan setidaknya 26 tembakan. Ditemukan pula 34 butir peluru tambahan di lokasi kejadian. Selain korban meninggal, aksi penembakan ini juga menyebabkan 23 orang terluka, dengan sembilan di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis.
Situasi di sekolah seketika berubah menjadi kepanikan. Para siswa berhamburan keluar dari area sekolah untuk mencari keselamatan, sementara petugas medis bergegas mengevakuasi korban luka. Di tengah kekacauan, sejumlah guru terlihat saling berpelukan dan menangis. Seorang siswa berusia 18 tahun mengaku awalnya mengira suara tembakan berasal dari petasan atau benda yang dipukul.
“Saya awalnya tidak mengira itu suara senjata. Ada banyak tembakan, lalu berhenti, kemudian terdengar lagi,” ungkapnya kepada Reuters. Petugas darurat Kiatikhun Verapongpradith mengatakan timnya tiba di lokasi ketika penembakan masih berlangsung. Mereka menemukan sejumlah siswa mengalami luka di bagian punggung, dada, dan lengan. Seorang guru ditemukan meninggal di lantai atas sekolah, sementara guru perempuan lainnya mengalami luka di dada dan lengan.
Petugas menemukan pelaku tergeletak dengan luka tembak di bagian kepala setelah terdengar suara tembakan terakhir. Meskipun denyut nadinya masih terdeteksi, upaya resusitasi jantung paru yang dilakukan petugas tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan belasungkawa mendalam atas insiden tragis tersebut. Berdasarkan informasi awal dari pejabat terkait, pelaku diduga mengalami tekanan terkait kegiatan belajar dan tinggal bersama kakek-neneknya. “Ini mengerikan. Saya berduka atas mereka yang meninggal dan sedih karena hal seperti ini terjadi di negara kita,” ujar Anutin. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan menyiapkan aturan baru terkait pengendalian senjata api.
Penembakan Sekolah Kedua Tahun Ini
Insiden ini menandai penembakan di sekolah kedua yang terjadi di Thailand sepanjang tahun 2026. Pada Februari lalu, seorang guru tewas dan seorang siswa terluka dalam insiden serupa di wilayah selatan negara tersebut. Thailand tercatat memiliki tingkat kepemilikan senjata api sipil yang relatif tinggi. Estimasi Small Arms Survey pada 2017 menyebutkan sekitar 10,3 juta senjata api berada di tangan warga sipil, atau setara dengan 15 senjata untuk setiap 100 penduduk.
Negara ini juga pernah mengalami beberapa kasus penembakan massal dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, seorang mantan polisi menewaskan 36 orang dalam serangan menggunakan senjata api dan pisau di wilayah timur laut Thailand, di mana 22 korban di antaranya adalah anak-anak di sebuah pusat penitipan anak. Dua tahun sebelumnya, seorang tentara menewaskan 29 orang dalam aksi penembakan di Nakhon Ratchasima. Pada tahun 2023, seorang remaja berusia 14 tahun juga menembak mati dua orang dan melukai lima lainnya di sebuah pusat perbelanjaan di Bangkok.
Menyusul insiden-insiden sebelumnya, pemerintah Thailand telah berupaya memperketat kebijakan kepemilikan senjata. Langkah-langkah yang diambil meliputi penghentian sementara penerbitan izin baru, pembatasan impor senjata, serta larangan bagi individu di bawah usia 20 tahun untuk menggunakan lapangan tembak. Pemerintah juga merancang persyaratan pemeriksaan kesehatan mental bagi pemilik senjata dan pembatasan masa berlaku untuk sejumlah jenis izin kepemilikan senjata.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.