Detak Media — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fokus pemerintah untuk memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi domestik pada sisa tahun 2026. Pernyataan ini disampaikan di tengah bayang-bayang tekanan perekonomian global.
Menurut Airlangga, perekonomian Indonesia masih menunjukkan performa yang solid dengan pertumbuhan mencapai 5,29%, melampaui proyeksi pertumbuhan global yang berada di angka 3%. Ia menekankan pentingnya upaya berkelanjutan dari pemerintah untuk menjaga momentum positif tersebut di paruh kedua tahun 2026.
“Perekonomian global tumbuh di 3%, kita (Indonesia) masih tumbuh di 5,29%. Jadi yang penting sekarang kita terus saja pemerintah terus bekerja konsentrasi untuk di semester II-2026,” ujar Airlangga di kantornya, Jakarta, pada Kamis (6/8/2026).
Pemerintah berencana menggenjot laju investasi sebagai salah satu pilar utama penyokong pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, sektor pariwisata juga diidentifikasi memiliki potensi besar untuk didorong sebagai lokomotif pertumbuhan.
“Sektor yang terkait dengan pariwisata terbukti bisa menggeliat dan kita bisa dorong ini untuk low hanging fruit,” terang Airlangga.
Dalam konteks kerja sama internasional, Airlangga menyebutkan bahwa kunjungan Perdana Menteri Kerajaan Thailand, Anutin Charnvirakul, turut membahas kesepakatan kerja sama di sektor perhubungan. Salah satu hasil pembicaraan adalah rencana pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta-Bangkok dan Denpasar-Phuket.
“Dengan demikian hubungan turisme dua negara ini bisa meningkat. Sudah disetujui kedua belah pihak,” tutur Airlangga, mengindikasikan potensi peningkatan arus wisatawan antar kedua negara.
Menanggapi kondisi perekonomian saat ini, Ekonom Senior Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Ryan Kiryanto, menyarankan agar pemerintah mendorong produk ekspor alternatif dari sektor manufaktur. Langkah ini perlu dibarengi dengan peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi langsung.
Ryan juga menyoroti pentingnya perbaikan daya saing melalui reformasi birokrasi yang lebih efisien, efektif, dan pro-bisnis. Selain itu, kepastian regulasi menjadi kunci untuk memulihkan dan memperkuat kepercayaan publik, terutama di kalangan pelaku ekonomi, pasar, dan investor.
“Harapannya agar target pertumbuhan ekonomi berkisar 5,3-5,6% pada tahun 2026 ini yang berkesinambungan, berkualitas atau inklusif bahkan bisa tercapai sekaligus sebagai modal berharga menjelang tahun 2027,” pungkas Ryan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.