— KINSHASA – Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo terus menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah kasus terkonfirmasi kini telah melampaui angka 4.000, menempatkannya sebagai wabah Ebola terbesar kedua dalam sejarah, hanya kalah dari epidemi yang terjadi di Afrika Barat pada periode 2014 hingga 2016.

Data terbaru yang dirilis oleh institut kesehatan masyarakat Kongo mencatat total kasus mencapai 4.053. Dari jumlah tersebut, 1.850 kasus dilaporkan berujung pada kematian. Penyebaran virus ini telah merambah ke lima provinsi, yaitu Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uele, dan Tshopo.

Para pakar menduga penularan sebenarnya telah berlangsung selama beberapa bulan sebelum pemerintah secara resmi mengumumkan status wabah pada 15 Mei. Oleh karena itu, angka infeksi riil diperkirakan bisa jadi lebih tinggi daripada yang tercatat secara resmi.

Sebuah laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Science bulan lalu mengindikasikan bahwa wabah ini kemungkinan besar telah dimulai sejak Januari, atau bahkan lebih awal, di wilayah Ituri. Para peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari 500 kasus suspek dalam rentang waktu pertengahan Januari hingga 15 Mei.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penyebaran yang cepat ini meliputi keterlambatan dalam deteksi dini, sistem surveilans kesehatan yang kewalahan, adanya konflik bersenjata, serta keterbatasan ketersediaan vaksin dan pengobatan yang spesifik untuk jenis virus yang menyerang dalam wabah kali ini. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian yang dilakukan belum mampu mengimbangi laju penyebaran penyakit.

Meskipun demikian, jumlah kasus yang tercatat saat ini masih berada di bawah angka yang dicatat pada wabah Ebola di Afrika Barat tahun 2014-2016. Pada epidemi tersebut, lebih dari 28.000 kasus terdata di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Wabah yang terjadi di Kongo saat ini menjadi sorotan utama karena kecepatan penyebarannya dan tingginya angka kematian. Penguatan sistem deteksi dini, pelacakan kasus secara efektif, peningkatan akses terhadap pengobatan, serta ketersediaan vaksin yang memadai menjadi elemen krusial untuk dapat membatasi penularan lebih lanjut.