— Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga merupakan Ketua Tim Negosiator Iran, melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS). Ia menyebut pendekatan AS sebagai “diplomasi sandiwara” yang tidak konsisten.

Ghalibaf menilai pola komunikasi Presiden AS Donald Trump, yang seringkali mengumumkan rencana serangan namun kemudian membatalkannya demi melanjutkan negosiasi, mencerminkan diplomasi yang tidak stabil. “Serangan besar-besaran akan datang, tunggu, lupakan saja, mereka ingin bernegosiasi. Itulah diplomasi sandiwara yang berulang-ulang,” tulis Ghalibaf melalui akun X miliknya.

Ia menambahkan bahwa penggunaan ancaman, janji yang tidak dipenuhi, dan penyebaran informasi yang menyesatkan menjadi bukti kegagalan strategi diplomatik AS. “Akui saja faktanya dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak perlu sandiwara lagi,” tegasnya.

Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim dirinya terlibat dalam pembicaraan untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dan mengisyaratkan kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran dalam waktu dekat. Klaim ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara dalam beberapa pekan terakhir.

Pemerintah AS sebelumnya telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Sebagai respons, Iran menyerang sejumlah fasilitas militer AS di negara-negara kawasan Teluk, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Eskalasi militer ini terjadi meskipun kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni 2026 sebagai langkah awal menuju perjanjian yang lebih komprehensif.

Proses perundingan sempat terhenti karena belum tercapainya kesepakatan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran strategis dan urat nadi perdagangan energi global. Pekan lalu, Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan militer terhadap Iran, bahkan menargetkan fasilitas energi dan infrastruktur vital lainnya. Namun, rencana tersebut dibatalkan dengan alasan Iran bersedia melanjutkan perundingan.

Laporan media AS juga menyebutkan bahwa keterbatasan persediaan rudal pencegat menjadi salah satu faktor penentu Washington untuk menunda serangan. Hubungan Iran dan AS telah lama diwarnai ketegangan, terutama terkait program nuklir Iran, kehadiran pasukan AS di Timur Tengah, dan pengaruh Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.

Meskipun kedua negara beberapa kali membuka jalur diplomasi, proses tersebut seringkali terganggu oleh aksi militer, saling tuding, dan perbedaan pandangan mengenai keamanan regional. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadi titik krusial dalam perundingan. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat ini, sehingga setiap ketegangan di kawasan berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi global, perdagangan internasional, serta keamanan Timur Tengah.

Para pengamat menilai keberhasilan negosiasi antara Iran dan AS akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas geopolitik kawasan dan mengurangi risiko eskalasi konflik yang lebih luas.