Detak Media — Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026. Rupiah ditutup melemah 34 poin ke level Rp 17.897 per dolar AS, turun dari penutupan sebelumnya di Rp 17.923 per dolar AS.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh ketidakpastian seputar perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan media Iran menyebutkan Teheran telah menyerang “target-target bermusuhan” di Selat Hormuz dan berencana melarang kapal-kapal AS serta Israel melintasi jalur perairan strategis tersebut.
Perkembangan ini terjadi setelah para pejabat Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran sudah memasuki tahap akhir. Meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran terkait potensi kenaikan harga minyak mentah. Hal ini pada akhirnya membuat pasar mengantisipasi tekanan inflasi yang dapat mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga.
“Pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, menyusul laporan Financial Times bahwa Ketua Federal Reserve Kevin Warsh siap menaikkan biaya pinjaman jika inflasi tetap tinggi dalam beberapa minggu mendatang,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Secara internal, rupiah menunjukkan pelemahan meski posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tetap terjaga di angka 145,3 miliar dolar AS. Angka ini relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 yang sebesar US$ 145,6 miliar.
“Perkembangan posisi cadangan devisa Juli 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah,” jelas Ibrahim.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.