Detak Media — YOGYAKARTA – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai telah meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, yang berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Menghadapi kondisi tersebut, Indonesia perlu segera memperkuat diversifikasi pasar baik untuk ekspor maupun impor, sembari terus berupaya membenahi berbagai persoalan domestik.
Menteri Perdagangan periode 2016-2019 sekaligus Chairman B-Universe, Enggartiasto Lukita, menekankan bahwa langkah diversifikasi pasar sangat diperlukan mengingat dinamika ekonomi global saat ini menunjukkan peningkatan tren proteksionisme di berbagai negara.
“Dari zaman periode Trump pertama itu sudah terjadi pergeseran karena ada kepentingan Trump mengenai proteksionisme sehingga terjadi erosi multilateralisme. Itu jadi kecenderungan seperti itu,” ujar Enggartiasto dalam diskusi bertajuk “Dampak Perang Amerika-Iran pada Ekonomi Indonesia” di Yogyakarta, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menegaskan pentingnya bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada satu atau beberapa pasar tertentu. Diversifikasi pasar ekspor dan impor akan memberikan Indonesia alternatif yang lebih luas ketika terjadi gangguan pada perekonomian global.
Enggartiasto mencontohkan pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Perdagangan ketika menghadapi persoalan Generalized System of Preferences (GSP) yang sempat terancam dicabut. “Saya mempunyai pengalaman bagaimana persoalan mengenai GSP yang mau dicabut sebagai contoh. Demikian juga dengan diversifikasi pasar. Presiden Joko Widodo lalu menugaskan saya untuk membuka pasar, mengantisipasi apa yang terjadi dengan kondisi yang sudah mengarah kepada proteksionisme,” katanya.
Selain itu, Enggartiasto menilai konflik AS-Iran berpotensi memperkuat kecenderungan negara-negara untuk lebih mengutamakan kepentingan ekonomi domestik masing-masing. “Nah sekarang perang Iran-Iran, semua akan memproteksi untuk kepentingan dirinya. Nah sekarang bagaimana dengan kita? Nah kita harus bisa mengantisipasi setelah berbagai upaya diversifikasi pasar dan berbagai hal lain yang memang sudah menjadi kebutuhan,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain memperluas pasar, Indonesia juga perlu melakukan perbaikan kondisi di dalam negeri, terutama terkait regulasi yang berpotensi menghambat investasi. “Kita juga harus berbenah diri. Berbenah dalam artian berbagai peraturan-peraturan yang menghambat investasi. Berbagai hal yang harus kita benahi,” kata Enggartiasto.
Enggartiasto menegaskan bahwa kesiapan Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi global tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dunia usaha dan masyarakat juga perlu terlibat aktif dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal. “Nah inilah hal yang secara bersama-sama tidak mungkin kita menyerahkan pada pemerintah sendiri tanpa keterlibatan dari berbagai pihak termasuk diri kita,” pungkasnya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.