— Analis memproyeksikan nilai tukar rupiah (IDR) akan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026. Pada penutupan perdagangan Jumat sore (7/8/2026), rupiah ditutup melemah 34 poin ke level Rp 17.897 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.890 – Rp 17.940 per dolar AS untuk perdagangan Senin depan. Sementara itu, untuk pergerakan sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi kurs rupiah akan berada di kisaran Rp 17.780 – Rp 18.020 per dolar AS.

Prospek pelemahan rupiah ini dipicu oleh sentimen eksternal, terutama ketidakpastian terkait perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan kembali meningkat di Selat Hormuz setelah Iran berencana melarang kapal-kapal AS dan Israel melintasi jalur perairan strategis tersebut. Peningkatan ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga minyak mentah dapat mendorong pasar mengantisipasi tekanan inflasi, yang pada gilirannya dapat mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan. “Para analis menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi pekan ini mengisyaratkan bahwa ketegangan antara Iran dan AS belum berakhir,” ungkap Ibrahim.

Ibrahim menambahkan bahwa para pembuat kebijakan di bank sentral AS tidak dapat membiarkan inflasi yang terus-menerus tinggi. Ia menyoroti bahwa mereka tidak bisa hanya menunggu kemungkinan pertumbuhan produktivitas yang lebih kuat untuk meredakan tekanan harga.

Dari sisi domestik, rupiah diprediksi kembali melemah meskipun posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat sebesar US$ 145,3 miliar, yang relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar US$ 145,6 miliar. “Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik,” pungkas Ibrahim.