Detak Media — Pihak berwenang Arab Saudi dilaporkan menerima informasi intelijen yang mengindikasikan adanya persiapan serangan oleh sejumlah kelompok bersenjata asing terhadap wilayah kerajaan. Serangan tersebut diduga menyasar berbagai fasilitas sipil dan infrastruktur strategis, termasuk sektor energi.
Laporan Al Arabiya yang dikutip Sputnik pada Jumat (7/8/2026), yang mengacu pada sumber senior di Riyadh, menyebutkan sasaran potensial serangan meliputi bandara, pelabuhan, fasilitas energi, serta sejumlah objek vital lainnya di Arab Saudi.
Laporan tersebut mengindikasikan dugaan rencana serangan berasal dari kelompok Ansar Allah atau yang lebih dikenal sebagai Houthi di Yaman. Selain itu, beberapa kelompok bersenjata di Irak serta Korps Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/ IRGC) juga disebut dalam laporan tersebut.
Meskipun demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi keterlibatan pihak-pihak yang disebutkan dalam laporan tersebut.
Sebelumnya, pada akhir Juli 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya siap membantu Arab Saudi mencari penyelesaian atas konflik yang melibatkan kelompok Houthi.
Ketegangan Kembali Memanas
Hubungan antara Houthi dan Arab Saudi kembali memanas setelah kelompok tersebut mengumumkan larangan pelayaran bagi kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi di kawasan Laut Merah.
Houthi menyatakan kebijakan tersebut merupakan respons terhadap dugaan blokade yang dilakukan Arab Saudi terhadap wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali mereka di Yaman.
Kelompok itu juga mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap kapal, fasilitas energi, dan bandar udara yang berkaitan dengan Arab Saudi.
Di sisi lain, koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi dilaporkan kembali melakukan serangan udara terbatas ke sejumlah sasaran militer utama milik Houthi di Yaman.
Situasi tersebut menunjukkan ketegangan di kawasan masih berlangsung dan berpotensi meningkatkan risiko terhadap keamanan jalur pelayaran internasional maupun stabilitas kawasan Timur Tengah.
Konflik di Yaman telah berlangsung sejak akhir 2014, ketika kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota Sana’a. Kondisi tersebut mendorong koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Selama bertahun-tahun, konflik berkembang menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia dan turut memengaruhi stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap fasilitas energi, bandara, maupun jalur pelayaran di Laut Merah kerap menjadi bagian dari eskalasi konflik, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan dan distribusi energi paling penting di dunia.
Di tengah berbagai upaya diplomasi yang dilakukan negara-negara kawasan, termasuk sinyal normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Iran dalam beberapa tahun terakhir, potensi ancaman keamanan dari kelompok-kelompok bersenjata tetap menjadi perhatian utama karena dapat berdampak pada stabilitas regional, keamanan energi global, dan kelancaran perdagangan internasional.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.