Detak Media — WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan peringatan tegas kepada Israel, menyatakan akan merasakan “kekecewaan yang sangat besar” apabila negara itu tidak mematuhi rencana perdamaian yang diajukan AS untuk mengakhiri konflik di Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Gedung Putih.
Sikap Washington yang lugas ini muncul setelah Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan terkait pelucutan senjata secara menyeluruh terhadap kelompok milisi Palestina, Hamas, serta faksi-faksi bersenjata lainnya di Gaza. Pejabat AS tersebut menjelaskan, “Kami tidak meminta Israel melakukan apa pun selain menyetujui rencana 20 poin yang sebelumnya telah mereka sepakati sendiri. Oleh karena itu, kami sangat yakin mereka akan mematuhinya. Jika tidak, tentu saja Presiden Trump akan sangat, sangat kecewa.” Keterangan ini dilansir dari Sputnik pada Jumat, 31 Juli 2026.
Pemerintah AS optimistis bahwa Israel akan tetap menjadi mitra yang baik dan menunjukkan komitmen penuh terhadap kesepakatan yang telah dicapai. Mengenai jangka waktu pelucutan senjata Hamas, pejabat tersebut memperkirakan adanya pergerakan konkret dalam waktu dekat. “Dalam beberapa minggu ke depan, kami akan terus menyempurnakan detail teknisnya. Kami meyakini kemajuan nyata dapat terlihat dalam satu hingga dua bulan mendatang,” tambahnya.
Di sisi lain, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pendirian pemerintahannya. Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari posisi yang disebut ‘Garis Kuning’ di Gaza hingga proses pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi wilayah tersebut benar-benar selesai sepenuhnya.
Kesepakatan perdamaian ini merupakan hasil dari proses mediasi intensif yang melibatkan Mesir, Qatar, Turki, dan AS. Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas telah menyetujui tahap pertama dari kerangka kerja rencana perdamaian yang diusulkan oleh Trump. Kesepakatan tersebut secara resmi menghentikan pertempuran aktif melalui jeda kemanusiaan dan gencatan senjata yang mulai berlaku sehari setelahnya.
Sebagai bagian dari implementasi tahap awal, militer Israel menarik sebagian pasukannya hingga menyusuri perimeter keamanan yang dikenal sebagai Garis Kuning (Yellow Line). Meskipun terjadi penarikan posisi secara bertahap, kendali taktis Israel masih mencakup lebih dari 50% wilayah Jalur Gaza. Pemantauan ketat serta penentuan batas demiliterisasi kini menjadi ujian utama bagi keberlanjutan rencana 20 poin AS untuk mewujudkan stabilitas permanen di kawasan tersebut.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.