— JAKARTA – Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Agustus 2026 diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah isu krusial. Tiga faktor utama yang menjadi sorotan adalah proses pergantian Gubernur Bank Indonesia (BI), penyampaian Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, serta rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS).

Faktor domestik yang paling berpotensi menentukan arah IHSG adalah proses suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia. Kursi Gubernur BI telah kosong sejak 27 Juli menyusul kepergian Perry Warjiyo dua tahun lebih awal dari jabatannya, dengan Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas gubernur.

Sejumlah nama telah beredar sebagai kandidat pengganti, termasuk Destry Damayanti, Muliaman D Hadad, Aida S Budiman, dan Thomas Djiwandono. “Hingga penyusunan riset, presiden disebut belum mengajukan nama calon Gubernur BI kepada DPR,” tulis Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam risetnya.

Liza menjelaskan bahwa pencalonan Destry, Muliaman, atau Aida berpotensi diterima pasar sebagai pilihan yang mendukung kesinambungan kebijakan. Ketiga kandidat tersebut dinilai memiliki latar belakang institusional yang kuat, sehingga diharapkan dapat memberikan kepastian bagi investor.

Sebaliknya, pencalonan Thomas Djiwandono berpotensi menguji kemampuan pasar dalam meredam kekhawatiran mengenai tata kelola dan independensi bank sentral. Sentimen ini dapat memicu volatilitas IHSG jika tidak dibarengi dengan komunikasi kebijakan yang meyakinkan dari otoritas.

Proses pergantian Gubernur BI ini menjadi salah satu alasan Kiwoom Sekuritas menurunkan proyeksi peluang penguatan IHSG pada Agustus menjadi 60%–65%. Angka ini lebih rendah dibandingkan tingkat keberhasilan musiman IHSG pada Agustus yang mencapai 100% dalam enam tahun terakhir.

Katalis Domestik Lainnya

Katalis domestik penting lainnya adalah penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027. Dokumen ini umumnya disampaikan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Sebagai perbandingan, Nota Keuangan RAPBN 2026 disampaikan pada 15 Agustus 2025.

Pelaku pasar diperkirakan akan mencermati asumsi pertumbuhan ekonomi, besaran defisit anggaran, serta kebutuhan pembiayaan pemerintah untuk tahun 2027. Investor juga akan mencari sinyal mengenai arah kebijakan ekonomi dan potensi kepemimpinan baru di BI.

Perhatian Global pada Data Ketenagakerjaan AS

Dari sisi global, perhatian pasar akan tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS di luar sektor pertanian atau *nonfarm payrolls* (NFP), yang dijadwalkan rilis pada 7 Agustus. “Data tersebut dinilai akan berpengaruh besar terhadap ekspektasi suku bunga The Fed pada September,” jelas Liza.

Kiwoom Sekuritas menyebut Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, telah menarik panduan arah kebijakan ke depan (*forward guidance*). Oleh karena itu, kebijakan The Fed diperkirakan akan semakin responsif terhadap data ekonomi terbaru.

Data *nonfarm payrolls* berpotensi memengaruhi proyeksi suku bunga, pergerakan dolar AS, dan aliran modal ke pasar negara berkembang. Data sebelumnya menunjukkan penambahan tenaga kerja yang relatif lemah, yakni hanya 57.000 orang.

Data *nonfarm payrolls* yang lebih lemah dari perkiraan dapat meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan moneter dan menekan dolar AS. Kondisi ini berpotensi mendukung arus modal ke pasar negara berkembang serta memberikan sentimen positif bagi harga komoditas.

Sebaliknya, data ketenagakerjaan yang jauh lebih kuat dari perkiraan dapat mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Skenario ini menjadi salah satu risiko utama yang dapat mematahkan pola penguatan IHSG pada Agustus.

Prediksi IHSG Agustus 2026

Kiwoom Sekuritas memprediksi IHSG akan melanjutkan penguatannya pada Agustus 2026, setelah mencatatkan kenaikan bulanan terbaik sepanjang tahun ini. Namun, arah pasar akan sangat dipengaruhi oleh proses pergantian Gubernur BI, penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Peluang IHSG mencatatkan kinerja positif pada Agustus diperkirakan berada di kisaran 60%–65%. Dalam skenario dasar, IHSG diproyeksikan bergerak di rentang 6.050–6.450.

Peluang penguatan ini didukung oleh pola musiman IHSG yang cenderung menguat setiap Agustus dalam enam tahun terakhir. Sejak 2020, tingkat keberhasilan penguatan IHSG pada Agustus mencapai 100%, dengan rata-rata imbal hasil sebesar 2,83%.

Sebagai perbandingan, pada Agustus 2025, IHSG menguat 4,63% dan melanjutkan kenaikan hingga mencetak serangkaian rekor penutupan tertinggi. “Kendati demikian, risiko pada Agustus tahun ini dinilai lebih besar karena pasar menghadapi ketidakpastian kepemimpinan di bank sentral,” ujar Liza.

Sebelumnya, IHSG melonjak 10,28% sepanjang Juli 2026, yang merupakan kinerja bulanan terkuat pada tahun berjalan. Penguatan ini memulihkan sekitar sepertiga dari koreksi tajam yang terjadi sejak awal tahun. Pada penutupan perdagangan 31 Juli 2026, IHSG berada di level 6.236. Meskipun telah pulih pada Juli, IHSG masih terkoreksi sekitar 28% sejak awal 2026.

Kiwoom Sekuritas membagi pergerakan IHSG pada Agustus ke dalam tiga skenario. Skenario penurunan diprediksi berada pada rentang 5.900–6.050, skenario dasar di rentang 6.050–6.450, sedangkan skenario penguatan berada di kisaran 6.450–6.950. Target IHSG hingga akhir tahun ini ditetapkan di level 7.000.