Detak Media — JAKARTA – Perekonomian DKI Jakarta menunjukkan pertumbuhan yang solid pada triwulan II-2026, mencapai 5,52% secara year on year (yoy). Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,29% (yoy). Pertumbuhan positif ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat, akselerasi investasi, serta kinerja sektor-sektor utama.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Bambang Arianto, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Jakarta diprakirakan akan terus kuat hingga akhir tahun. Hal ini ditopang oleh terjaganya permintaan domestik, keberlanjutan proyek strategis nasional dan daerah, serta maraknya agenda meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) dan berbagai event budaya.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,18% (yoy), didukung oleh penyelenggaraan acara besar seperti Jakarta Fair dan periode libur sekolah. Investasi atau Private Investment (PMTB) juga mengalami akselerasi dengan pertumbuhan 6,52% (yoy). Sementara itu, konsumsi pemerintah melonjak 14,70% (yoy), seiring dengan penyaluran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan percepatan belanja program prioritas. Ekspor barang dan jasa turut berkontribusi dengan pertumbuhan 9,82% (yoy).
Sektor-sektor pendukung ekonomi Jakarta juga menunjukkan kinerja positif. Lapangan Usaha (LU) perdagangan besar dan eceran tumbuh 6,83% (yoy), sementara LU konstruksi naik 5,96% (yoy). Sektor ekonomi kreatif juga semakin menguat. LU penyediaan akomodasi dan makan minum, yang mencakup kuliner dan pariwisata, tumbuh kuat sebesar 9,52% (yoy) sejalan dengan peningkatan kunjungan wisatawan dan okupansi hotel.
“Kinerja sektor terkait ekonomi kreatif juga menunjukkan penguatan nyata. Adapun LU penyediaan akomodasi dan makan minum (kuliner/pariwisata) tumbuh kuat sebesar 9,52% (yoy) sejalan dengan peningkatan kunjungan wisatawan dan akomodasi hotel,” ujar Bambang dalam Bincang-Bincang Media mengenai Perkembangan dan Prospek Perekonomian Jakarta, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Jumat (7/8/2026).
LU informasi dan komunikasi tumbuh 5,97% (yoy), mencerminkan pesatnya layanan dan transaksi berbasis aplikasi, konten, dan media digital di Jakarta. Sektor kreatif lainnya seperti fashion dan kerajinan (kriya) juga mencatatkan perluasan pasar melalui dorongan digitalisasi sistem pembayaran dan ekosistem QRIS yang semakin inklusif.
Sebagai langkah konkret untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menyelenggarakan Jakarta Economic Forum (JEF) 2026. Forum ini dirancang sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, pelaku industri, hingga investor untuk menggali gagasan, strategi, dan inovasi pengembangan ekonomi kreatif.
Bambang menambahkan, penyelenggaraan JEF 2026 diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret serta membuka ruang kemitraan strategis baru. Sinergi ini menjadi kunci utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Jakarta yang tinggi, inklusif, hijau, dan berkelanjutan sebagai kota global yang berdaya saing.
Di tengah ketidakpastian kondisi global, stabilitas inflasi yang terjaga dan akselerasi transformasi digital diharapkan menjadi penopang utama daya beli masyarakat. Bank Indonesia secara konsisten mengambil peran aktif sebagai fasilitator dan akumulator pertumbuhan pilar ekonomi baru, khususnya ekonomi kreatif. Melalui program pendampingan UMKM, peningkatan kapasitas wirausaha muda, serta fasilitasi pembiayaan inklusif, BI berfokus memperkuat rantai nilai ekonomi kreatif agar mampu meningkatkan daya saing global, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta akan terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas serta akselerasi pertumbuhan ekonomi Jakarta.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.