— Nilai tukar rupiah (IDR) terhadap dolar AS (USD) menunjukkan pelemahan dalam sepekan terakhir, merosot 13 poin atau 0,07%, dari Rp 18.009 menjadi Rp 18.022 pada periode 27 hingga 31 Juli 2026.

Pada awal pekan, Senin, 27 Juli 2026, rupiah dibuka melemah 6 poin (0,03%) ke level Rp 17.969 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi menyusul pengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Hingga penutupan perdagangan hari itu, rupiah ditutup melemah 46 poin (0,26%) ke level Rp 18.009 per dolar AS.

Perdagangan pada Selasa, 28 Juli 2026, kembali diwarnai pelemahan. Rupiah dibuka melemah 65 poin (0,36%) ke Rp 17.074 per dolar AS dan terus tertekan hingga ditutup turun 74 poin (0,41%) ke level Rp 18.083 per dolar AS.

Memasuki Rabu, 29 Juli 2026, rupiah sempat dibuka melemah 26 poin (0,14%) ke Rp 18.109 per dolar AS. Namun, pada penutupan perdagangan, mata uang Garuda berhasil menguat tipis 10 poin (0,06%) menjadi Rp 17.073 per dolar AS.

Pergerakan rupiah pada Kamis, 30 Juli 2026, kembali ke zona merah. Setelah dibuka melemah 2 poin (0,01%) ke Rp 18.075 per dolar AS, rupiah ditutup terdepresiasi 38 poin (0,21%) ke level Rp 18.111 per dolar AS.

Menjelang akhir pekan, Jumat, 31 Juli 2026, rupiah sempat dibuka menguat 37 poin (0,20%) ke Rp 18.074 per dolar AS. Penguatan ini berlanjut hingga penutupan perdagangan, di mana rupiah ditutup menguat 89 poin (0,49%) ke level Rp 18.022 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan nilai tukar rupiah pada sepekan ke depan akan bergerak fluktuatif. Namun, ia menilai rupiah masih rentan melemah terhadap dolar AS, dengan pergerakan diperkirakan berada di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 18.300.

“Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 18.020 – Rp 18.070,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, dikutip pada Minggu (2/8/2026).

Ibrahim menambahkan, pergerakan rupiah pekan depan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Dua faktor utama yang disorot adalah ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah serta rilis kebijakan moneter dari Federal Reserve.