— JAKARTA – Nilai tukar rupiah berisiko kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menjelang akhir pekan, Jumat (24/7/2026). Pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026), rupiah tercatat melemah 19 poin ke level Rp 17.936 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.920 per dolar AS.

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.930 – Rp 17.980 pada perdagangan hari ini. Menurutnya, prospek pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen ketegangan konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.

Baru-baru ini, serangan terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah yang diklaim dilakukan oleh militan Houthi menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi lebih lanjut. Gangguan yang berkelanjutan dapat memaksa kapal tanker untuk mengubah rute ke arah Afrika selatan, yang akan memperpanjang waktu tempuh dan meningkatkan biaya pengiriman.

Selain isu geopolitik, pelemahan rupiah diprediksi berlanjut seiring dengan fokus pasar terhadap rilis data Klaim Pengangguran Awal di Amerika Serikat untuk minggu yang berakhir pada 18 Juli 2026. Para pelaku pasar juga menanti data S&P Flash PMI yang akan dirilis pada Jumat ini dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan minggu depan.

Dari sisi domestik, rupiah diproyeksi kembali tertekan meskipun Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Bank sentral juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 basis poin menjadi 6,50%.