Detak Media — JAKARTA – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah telah berhasil menjangkau 8,82 juta peserta didik di seluruh Indonesia. Data ini tercatat dari periode 1 Januari hingga 14 Juli 2026.
Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Kurnia Ramadhana, menyampaikan bahwa jangkauan tersebut mencakup pelaksanaan CKG di berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA, Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga pondok pesantren, yang ditujukan bagi anak usia 7-17 tahun.
“Sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026, CKG sekolah sudah melayani 8.824.185 siswa di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota,” ujar Kurnia dalam konferensi pers di gedung Bakom RI, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Kurnia menjelaskan bahwa pemeriksaan dalam program CKG sekolah tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik, tetapi juga mencakup kondisi kejiwaan anak. Hal ini merupakan bagian integral dari upaya deteksi dini masalah kesehatan pada peserta didik.
Pelaksanaan program CKG dilakukan langsung di lingkungan sekolah masing-masing, sesuai dengan jadwal kunjungan puskesmas setempat. Beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan meliputi tingkat aktivitas fisik, deteksi anemia pada remaja putri, pemeriksaan mata, telinga, gigi, hingga evaluasi kondisi kejiwaan.
Pemerintah menargetkan program ini dapat menjangkau 50.255.073 peserta didik di 303.263 sekolah sepanjang tahun 2026. Rincian sekolah yang menjadi target meliputi 184.714 SD, 68.109 SMP, 43.032 SMA, 4.048 pondok pesantren, dan 3.360 SLB.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hasil pemeriksaan CKG sekolah pada periode 1 Januari hingga 14 Juli 2026 menunjukkan masih tingginya sejumlah masalah kesehatan pada peserta didik. Temuan terbanyak adalah karies atau gigi berlubang yang dialami oleh 40,8% siswa. Disusul dengan anemia pada 27,3% remaja putri, dan tekanan darah tinggi atau hipertensi pada 21,7% siswa.
Selain itu, pemeriksaan juga menemukan bahwa 6,9% siswa mengalami serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga, serta 6,7% lainnya mengalami obesitas.
Capaian Signifikan
Kurnia menuturkan bahwa temuan-temuan ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat upaya promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan) di lingkungan sekolah.
“Program ini bermanfaat besar bagi siswa, orang tua, serta sekolah sebagai penyelenggara pendidikan,” pungkasnya. Capaian CKG ini terbilang signifikan, mengingat program tersebut baru berjalan kurang dari satu tahun sejak resmi diluncurkan serentak pada 4 Agustus 2025.
Melalui CKG sekolah, pemerintah mendorong agar berbagai masalah kesehatan yang dialami anak dapat terdeteksi sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan peserta didik yang lebih sehat, sekaligus mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan tumbuh kembang anak.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.