— Presiden The Federal Reserve (The Fed) Bank of San Francisco, Mary Daly, menyatakan dukungannya terhadap keputusan bank sentral Amerika Serikat untuk menahan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan Juli 2026. Keputusan ini diambil saat otoritas moneter berupaya mengumpulkan lebih banyak data untuk merespons inflasi yang masih berada di atas target 2%.

Dalam sebuah konferensi ekonomi di Tokyo pada Rabu (5/8/2026) waktu setempat, Daly menekankan pentingnya kecermatan sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya. “Kami perlu mengumpulkan banyak informasi sebelum pertemuan kebijakan moneter September mendatang untuk menentukan apakah inflasi dipicu oleh gangguan rantai pasok yang akan mereda seiring waktu, atau justru membentuk tren inflasi yang lebih persisten,” ujar Daly sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (6/8/2026). Ia menambahkan, The Fed harus tetap waspada terhadap setiap perkembangan data ekonomi yang masuk, sekaligus siap mengambil tindakan tegas jika situasi mendesak.

Dilema Internal The Fed dan Potensi Kenaikan Suku Bunga

Pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) pekan lalu, para pejabat sepakat mempertahankan target suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75% akibat kekhawatiran atas tingginya tekanan harga. Keputusan ini tidak diambil secara bulat, karena tiga pejabat menyatakan pendapat berbeda (dissenting vote) dan mendorong kenaikan suku bunga karena mengkhawatirkan level inflasi saat ini.

Beberapa pejabat The Fed lainnya belakangan ini juga menyuarakan agar bank sentral tetap terbuka pada opsi kenaikan suku bunga demi menekan inflasi kembali ke level target 2%. Daly, yang saat ini tidak memiliki hak suara dalam penetapan kebijakan FOMC, mengutarakan kekhawatirannya terkait respons masyarakat jika inflasi kembali memuncak. Ia memperingatkan, jika momentum lonjakan inflasi kembali terbentuk, The Fed mungkin harus merespons secara agresif.

Optimisme Meredanya Gangguan Rantai Pasok

Meskipun demikian, Daly menilai ada alasan kuat untuk percaya gangguan pasokan yang menghantam perekonomian AS tidak akan berdampak permanen terhadap inflasi. Menurutnya, daya tawar penetapan harga (pricing power) dari dunia usaha saat ini mulai terbatas, sehingga perusahaan akan kesulitan membebankan kenaikan biaya input kepada konsumen.

Di sisi lain, ekspektasi inflasi masyarakat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah. Daly meyakini, berhentinya konflik bersenjata di Timur Tengah akan secara bertahap mengikis kontribusi harga energi terhadap tekanan inflasi secara keseluruhan. Sejak lonjakan inflasi pascapandemi dan dinamika geopolitik global, The Fed dihadapkan pada mandat ganda (dual mandate) yang kompleks, yaitu menjaga stabilitas harga sekaligus mendorong kesempatan kerja maksimum. Penyesuaian suku bunga acuan menjadi instrumen utama bank sentral untuk mengendalikan laju ekonomi.

Suku bunga yang tinggi berfungsi mendinginkan laju inflasi dengan cara menekan tingkat pinjaman dan konsumsi masyarakat. Namun, jika suku bunga ditahan terlalu tinggi dalam jangka waktu yang terlalu lama, risiko perlambatan ekonomi hingga resesi dapat meningkat. Pertemuan FOMC pada September 2026 mendatang menjadi momen krusial bagi para pembuat kebijakan. Keputusan apakah The Fed akan tetap menahan, menaikkan, atau mulai melonggarkan suku bunga akan bergantung pada rilis data ketenagakerjaan, indeks harga konsumen (CPI), serta stabilitas harga energi global dalam beberapa pekan ke depan.