Detak Media — JAKARTA – Ekonomi hijau bukan lagi sekadar opsi, melainkan telah menjadi arah strategis pembangunan nasional Indonesia. Kebijakan ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi sembari menjaga keberlanjutan lingkungan. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan tidak perlu dipandang sebagai dua kepentingan yang saling bertentangan.
“Bagi Indonesia, ekonomi hijau bukan soal pilihan atau sekadar mengikuti tren global, melainkan arah kebijakan strategis bangsa. Pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan bukanlah dua hal yang saling mengorbankan, melainkan dua pilar yang saling memperkuat,” ujar Rachmat dalam acara yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (06/08/2026).
Rachmat menjelaskan bahwa transisi menuju ekonomi hijau berpotensi membuka peluang ekonomi baru, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Pemerintah memproyeksikan transisi ini dapat menciptakan lebih dari lima juta lapangan kerja hijau baru hingga tahun 2029. Selain itu, diperkirakan sekitar 72 juta pekerjaan yang ada dapat ditransformasikan menjadi lebih produktif, memiliki nilai tambah lebih tinggi, dan berkelanjutan.
Menurut Rachmat, keberhasilan transisi menuju ekonomi hijau sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal. Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi faktor krusial. Pembangunan ekonomi hijau perlu memprioritaskan peningkatan keterampilan, inklusi sosial, dan penguatan kapasitas masyarakat sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Dalam konteks ini, investasi sosial dinilai sebagai instrumen penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Pendekatan investasi sosial tidak hanya berfokus pada kegiatan filantropi, tetapi juga diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat dan penciptaan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Konferensi tersebut menyoroti pentingnya investasi sosial yang berbasis data, pengukuran dampak, perluasan akses pembiayaan, serta pengembangan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Presiden Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Sihol P. Aritonang, menambahkan bahwa keberlanjutan bisnis memiliki kaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya. “Bisnis hanya dapat tumbuh secara berkelanjutan ketika masyarakat di sekitarnya juga tumbuh, tangguh, dan memperoleh manfaat dari pertumbuhan tersebut,” katanya. Oleh karena itu, investasi pada masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi bisnis dengan dampak yang terukur.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menekankan pentingnya penguatan UMKM untuk memperluas manfaat pertumbuhan ekonomi. Ia mengemukakan bahwa peningkatan kapasitas UMKM memerlukan pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan, serta perluasan pasar. Kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan lembaga keuangan dinilai esensial agar lebih banyak pelaku usaha dapat meningkatkan skala usahanya.
Sementara itu, President Director Bentoel Group, William Lumentut, menyatakan bahwa investasi sosial juga harus diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia dan komunitas. Ia berpendapat bahwa tantangan sosial ekonomi tidak cukup diatasi hanya melalui pembangunan fisik, melainkan membutuhkan investasi yang mampu membuka akses, meningkatkan kapasitas, dan memperluas peluang ekonomi masyarakat.
Penyelenggaraan “Bangun Bangsa Conference 2026” dengan tajuk “Sustainable Community Growth: Shaping Indonesia’s Future Inclusive Economy” bertujuan mempertemukan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Forum ini membahas penguatan kolaborasi dalam investasi sosial serta kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi inklusif dan transisi menuju ekonomi hijau. Dengan meningkatnya kebutuhan investasi untuk mendukung agenda transisi hijau, sinergi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi faktor kunci. Selain mendorong masuknya modal, investasi diharapkan dapat menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan keterampilan, serta penguatan usaha masyarakat.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.