— Harga emas dunia tercatat melanjutkan penguatan selama tiga hari berturut-turut pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Penguatan ini didorong oleh pelemahan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) serta melandainya harga minyak mentah. Para investor kini bersiap menyimak rilis data tenaga kerja AS untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga.

Berdasarkan data perdagangan di pasar spot internasional, harga emas melambung 1,3% menjadi US$ 4.127,04 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS juga terangkat 0,8% ke posisi US$ 4.184,40 per ons.

Mata uang dolar AS yang cenderung tertekan membuat harga logam mulia berbasis greenback ini menjadi lebih terjangkau dan menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Di sisi lain, harga minyak mentah mulai stabil setelah sempat mengalami penurunan tajam pada dua sesi sebelumnya. Penurunan harga minyak ini berpotensi meredakan kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya menahan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan.

Faktor Geopolitik dan Kebijakan Bank Sentral

Dari panggung geopolitik, pemerintah Qatar menyatakan para mediator mencatat kemajuan signifikan dalam upaya menghentikan konflik antara AS dan Iran. Kendati demikian, pihak Iran membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan proses perundingan telah berlangsung. “Hubungan antara emas dan minyak masih sangat erat karena harga minyak memberikan dampak luar biasa terhadap perekonomian global dalam hal tekanan inflasi. Jika kita mendapatkan peta jalan (roadmap) deeskalasi ketegangan yang lebih jelas, harga emas berpotensi bergerak naik lebih tinggi lagi,” ujar Analis Pasar Senior di OANDA Kelvin Wong, Rabu.

Di sektor moneter, para pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 59% bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September 2026. Angka ini turun dari proyeksi hari sebelumnya yang mencapai 67%. Emas secara historis cenderung kehilangan daya tariknya di tengah tren suku bunga tinggi karena tidak menghasilkan imbal hasil (yield), meskipun statusnya diakui sebagai instrumen pelindung nilai inflasi (inflation hedge).

Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia, Anna Paulson, menyampaikan bahwa dirinya masih “terbuka” terhadap arah kebijakan moneter mendatang yang mungkin memerlukan penyesuaian suku bunga lebih lanjut. Para investor kini menantikan rilis laporan tenaga kerja ADP serta laporan non-farm payrolls pada Juli 2026 yang dijadwalkan terbit akhir pekan ini. Analis dari TD Securities memperkirakan harga emas masih akan bergerak dalam rentang terbatas (range-bound) di sekitar level saat ini.

Logam Mulia Lain Turut Menguat

Tren positif juga menular ke komoditas logam mulia lainnya. Perak (Spot Silver) melonjak 1,9% ke level US$ 60,64 per ons. Platina (Platinum) terangkat 1,4% ke US$ 1.758,35 per ons, yang merupakan posisi tertinggi sejak pertengahan Juni. Paladium (Palladium) menguat 0,9% ke level US$ 1.365,62 per ons, mencatatkan kenaikan dua hari beruntun.

Emas merupakan salah satu aset safe haven utama di dunia yang harganya dipengaruhi oleh gabungan variabel geopolitik, inflasi, dan kebijakan moneter global, khususnya dari AS. Hubungan emas dan dolar AS sangat erat karena emas diperdagangkan dalam mata uang Dolar AS (USD). Ketika nilai dolar melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga memicu peningkatan permintaan dan mendorong harga emas naik.

Kebijakan suku bunga bank sentral AS memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan emas. Kenaikan suku bunga menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, sehingga investor cenderung mengalihkan dananya ke instrumen bernilai imbal hasil. Sebaliknya, saat ekspektasi kenaikan suku bunga mereda atau terjadi pemangkasan, emas kembali dilirik karena risiko kerugian kesempatan (opportunity cost) memegang emas menjadi lebih rendah.

Minyak mentah adalah komoditas energi utama pembentuk biaya produksi dan transportasi global. Kenaikan tajam harga minyak dapat mendorong tingkat inflasi melambung. Dalam jangka panjang, emas berfungsi sebagai pelindung nilai kekayaan terhadap penurunan daya beli akibat inflasi tersebut. Namun, jika inflasi tinggi memaksa bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif, tekanan terhadap emas bisa kembali muncul.