Detak Media — Penelitian terbaru menunjukkan bahwa metode ‘membenamkan diri’ di alam, yang dikenal sebagai Shinrin-Yoku di Jepang, berpotensi efektif dalam menurunkan tekanan darah tinggi. Metode ini bekerja dengan cara menenangkan pikiran dan meredakan stres, yang secara langsung berdampak pada penurunan hipertensi.
Erny Amperawati, seorang peneliti kesehatan berbasis lingkungan, menjelaskan bahwa Shinrin-Yoku bukanlah pengganti obat-obatan hipertensi, melainkan sebagai pendamping dan upaya promotif preventif. “Kita tahu bahwa penderita hipertensi ada yang mengonsumsi obat-obatan. Shinrin-Yoku ini bukan pengganti obat ya, tetapi menjadi pendamping, upaya promotif preventif,” kata Erny di Semarang.
Metode Shinrin-Yoku ini menjadi fokus disertasi doktoral Erny yang berjudul “Pengembangan Model Shinrin-Yoku di Kawasan Perkebunan Teh Kemuning bagi Kebijakan Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer” di Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Sebelumnya, ia juga telah menyelesaikan Magister Hukum Kesehatan di universitas yang sama.
Pengobatan Berbasis Alam
Shinrin-Yoku, yang secara harfiah berarti ‘mandi hutan’, melibatkan penggunaan seluruh panca indera untuk meredakan stres dan menenangkan pikiran. Di Jepang, praktik ini umumnya dilakukan di hutan subtropis.
Namun, penelitian Erny dilakukan di kawasan perkebunan teh tropis di Indonesia, berbeda dengan mayoritas penelitian Shinrin-Yoku sebelumnya yang berfokus pada hutan subtropis. “Penelitian ini dilakukan pada kawasan perkebunan teh tropis di Indonesia, sementara sebagian besar penelitian Shinrin-Yoku sebelumnya dilakukan di kawasan hutan subtropis,” jelasnya.
Erny menyoroti bahwa hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan pengelolaannya masih sangat bergantung pada terapi farmakologis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendukung yang bersifat promotif dan preventif.
Dalam penelitian yang berlangsung di kawasan Perkebunan Teh Kemuning, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Erny melibatkan 14 penderita hipertensi berusia 51 hingga 70 tahun yang dipilih secara khusus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Shinrin-Yoku memberikan manfaat fisiologis yang signifikan, yaitu kecenderungan penurunan tekanan darah pada 70 persen partisipan.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah yang berharga bagi pemerintah, akademisi, praktisi kesehatan, dan para pemangku kepentingan. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kebijakan kesehatan berbasis lingkungan yang lebih holistik, promotif, preventif, berkelanjutan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat di Indonesia.
Erny menambahkan, “Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi manusia dengan lingkungan alami mampu mendukung kesehatan fisik maupun psikologis.” Ia juga menggarisbawahi bahwa kawasan perkebunan teh tidak hanya memiliki nilai ekonomi dan ekologis, tetapi juga berpotensi sebagai lingkungan terapeutik (therapeutic landscape) yang dapat diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan berbasis lingkungan.
Dengan demikian, lingkungan dapat dipandang tidak hanya sebagai tempat hidup, tetapi juga sebagai sumber daya kesehatan yang berkontribusi penting terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.