Detak Media — Polisi Korea Selatan menggeledah kantor pusat Starbucks Korea pada Rabu (5/8/2026) terkait dugaan penghinaan publik akibat kampanye pemasaran kontroversial yang dianggap melukai ingatan sejarah Pemberontakan Demokrasi Korea pada 18 Mei 1980.
Penggeledahan difokuskan pada materi promosi “Tank Day” yang diluncurkan bertepatan dengan hari peringatan gerakan demokratisasi tersebut. Kampanye ini menuai kecaman hebat karena dinilai menodai nama baik para korban jiwa dan penyintas penindasan militer di Kota Gwangju.
Tindakan ini merupakan kelanjutan penyelidikan polisi yang dimulai sejak Mei 2026, setelah sebuah kelompok masyarakat sipil melaporkan Pimpinan Shinsegae Group, Chung Yong-jin, atas dugaan pencemaran nama baik terhadap pejuang prodemokrasi dan keluarga korban. E-Mart, anak perusahaan Shinsegae Group, adalah pemegang saham pengendali di Starbucks Korsel.
Penyidik menemukan indikasi kelemahan dalam investigasi internal Starbucks Korea terkait promosi bermasalah tersebut. Kampanye ini dibatalkan tak lama setelah diluncurkan akibat kecaman publik.
Saat ini, tim penyidik mendalami apakah pejabat manajemen Starbucks Korea secara sengaja merancang promosi tersebut untuk menghina atau memicu kontroversi terhadap sejarah gerakan prodemokrasi.
Slogan Kontroversial dan Simbol Kelam Masa Lalu
Skandal ini berawal dari promosi diskon paket tumbler bernama “Tank”, disertai slogan: “Letakkan di meja dengan bunyi ‘Tak!'”. Slogan dan penamaan tersebut memicu kemarahan luas karena:
- Kata “Tank”: Mengingatkan pada kendaraan tempur lapis baja yang digunakan rezim militer saat membantai demonstran prodemokrasi di Gwangju pada 1980.
- Kata “Tak!”: Merujuk pada idiom kelam terkait tewasnya aktivis mahasiswa Park Jong-cheol pada 1987 akibat disiksa polisi, yang kematiannya memicu gelombang besar demokratisasi di Korea Selatan.
Akibat kontroversi ini, pimpinan eksekutif Starbucks Korsel diberhentikan, dan Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin menyampaikan permohonan maaf terbuka.
Untuk memahami gelombang kecaman terhadap Starbucks Korea, penting untuk memahami dua peristiwa sejarah penting dalam demokrasi Korea Selatan:
- Pemberontakan Demokrasi Gwangju (18–27 Mei 1980): Gerakan demonstrasi massal warga dan mahasiswa Gwangju menuntut penghentian darurat militer dan pengunduran diri diktator Jenderal Chun Doo-hwan. Rezim militer merespons dengan brutal menggunakan tentara, helikopter tempur, dan tank, menewaskan ratusan warga sipil dan melukai ribuan lainnya. Tragedi ini menjadi luka sejarah mendalam dan simbol sakral perjuangan hak asasi manusia.
- Kasus Kematian Park Jong-cheol (1987): Mahasiswa Universitas Nasional Seoul ini ditangkap dan disiksa hingga tewas oleh polisi rezim militer pada Januari 1987. Otoritas keamanan berupaya menutupi kejadian dengan klaim absurd bahwa Park meninggal serangan jantung mendadak saat polisi memukul meja hingga berbunyi “Tak!”. Pengungkapan kebenaran kematian Park memicu Gelombang Juni 1987 (June Democracy Movement) yang akhirnya mengakhiri pemerintahan kediktatoran militer di Korea Selatan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.