Detak Media — JAKARTA – Sektor jasa keuangan dan asuransi menjadi satu-satunya lapangan usaha yang mencatat kontraksi secara kuartalan pada triwulan II-2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan sektor ini menyusut 0,03% dari kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq). Dampaknya, terjadi penurunan jumlah tenaga kerja sebanyak 25.000 orang dalam periode Februari hingga Mei 2026.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 yang dirilis BPS, hampir seluruh lapangan usaha tercatat tumbuh pada periode tersebut. Namun, Jasa Keuangan dan Asuransi menjadi pengecualian dengan kontraksi 0,03%.
Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor jasa keuangan dan asuransi turun dari Rp 140,7 triliun pada triwulan I-2026 menjadi Rp 140,6 triliun pada triwulan II-2026. Kinerja ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 1,38% secara kuartalan.
Meskipun demikian, jika dilihat secara tahunan (year on year/yoy), sektor jasa keuangan dan asuransi masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,11%. Namun, angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2026 yang mencapai 4,68% yoy. Sepanjang semester I-2026, sektor ini mencatat pertumbuhan kumulatif (cumulative-to-cumulative/ctc) sebesar 3,89%.
Kontribusi sektor jasa keuangan dan asuransi terhadap PDB nasional pada triwulan II-2026 tercatat sebesar 4,05%, sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai 4,20%.
Sementara itu, perekonomian Indonesia secara keseluruhan tumbuh 3,73% (qtq) dan 5,29% (yoy). Nilai PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan sebesar Rp 3.576,2 triliun.
Penurunan jumlah pekerja juga terjadi di sektor jasa keuangan dan asuransi. Berdasarkan data BPS, terdapat pengurangan sebanyak 25.000 orang, sehingga total pekerja di sektor ini menjadi sekitar 1,16 juta orang pada periode Februari hingga Mei 2026. Sektor ini menjadi salah satu yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja, bersama sektor perdagangan dan eceran (-128.000 orang), penerbitan dan telekomunikasi (-38.000 orang), penyediaan air dan pengolahan limbah (-41.000 orang), serta penyediaan listrik dan gas (-7.000 orang).
Klaim Stabilitas Terjaga di Tengah Ketidakpastian
Di tengah tren kontraksi tersebut, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa sektor jasa keuangan tetap stabil. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK.
Friderica mengakui adanya ketidakpastian global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak. International Monetary Fund (IMF) bahkan merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Kebijakan tarif baru yang dikeluarkan Amerika Serikat terhadap 60 negara mitra dagang juga menambah tekanan.
“Naiknya tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut,” ujar Friderica.
Perkembangan investasi kecerdasan buatan (AI) disebut menjadi faktor penyeimbang prospek pertumbuhan ekonomi global. Di sisi lain, indikator perekonomian global menunjukkan divergensi antarnegara. Aktivitas manufaktur di negara maju menunjukkan perbaikan yang lebih kuat, sementara negara berkembang relatif lebih terbatas.
Di Amerika Serikat, inflasi menunjukkan moderasi dengan aktivitas ekonomi yang relatif stabil. Sementara China mencatat level pertumbuhan ekonomi terendah sejak akhir 2022, dengan konsumsi dan investasi swasta yang masih lemah, serta ekspor menjadi penopang utama. Di Eropa dan Inggris, inflasi juga menunjukkan tren penurunan.
Pasar keuangan global bergerak bervariasi di tengah meningkatnya kembali konflik di Timur Tengah. Terjadi outflow nonresiden di pasar keuangan global, meskipun intensitasnya mulai menunjukkan moderasi.
Sementara itu, di dalam negeri, tekanan harga mereda dengan inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% yoy. Aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 50,2. “Berdasarkan perkembangan tersebut, stabilitas sektor keuangan tetap terjaga didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai,” tandas Friderica.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.