Detak Media — Iran menunda rencana serangan balasan terhadap tiga titik di wilayah Ukraina. Keputusan ini diambil setelah pemerintah Ukraina secara resmi menyampaikan permintaan maaf terkait insiden kapal dagang Iran di Laut Kaspia pada 25 Juli 2026, yang menyebabkan kematian seorang anak buah kapal (ABK).
Penasihat Militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengungkapkan bahwa persiapan operasional serangan balasan telah rampung sepenuhnya sebelum akhirnya perintah untuk menghentikan operasi dikeluarkan. “Persiapan serangan telah selesai, namun operasi disetop setelah adanya permintaan maaf dari pihak Kiev,” ujar Rezaei dalam sebuah wawancara di televisi nasional Iran, seperti dikutip Anadolu, Selasa (4/8/2026).
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah berkomunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha. Dalam percakapan tersebut, Araghchi menekankan bahwa otoritas Ukraina memiliki kewajiban untuk memberikan ganti rugi atas seluruh kerusakan yang terjadi.
Iran Beri Peringatan Keras soal Selat Hormuz dan Klaim Kerugian AS
Selain membahas isu Ukraina, Rezaei juga menyampaikan peringatan tegas mengenai keamanan jalur maritim di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan memberikan izin bagi kapal mana pun untuk berlayar melalui jalur yang tidak diakui oleh pemerintahannya. “Kapal-kapal yang nekat melintas melalui jalur ilegal akan langsung kami jadikan sasaran tembak,” tegas Rezaei.
Rezaei juga mengklaim bahwa pihak Iran berhasil menimbulkan kerugian signifikan bagi pasukan Amerika Serikat (AS) dalam pertempuran sengit yang berlangsung selama 17 hari terakhir. Menurutnya, gelombang serangan rudal dan drone yang dilancarkan militer Iran sukses menggagalkan rencana operasi serangan AS di kawasan tersebut.
Latar Belakang Eskalasi Militer di Timur Tengah
Ketegangan yang melibatkan Iran ini merupakan kelanjutan dari eskalasi militer skala besar di Timur Tengah yang pecah sejak Februari 2026. Saat itu, pemerintah AS bersama Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah posisi strategis di Iran. Aksi ini memicu balasan dari Iran, yang kemudian menembakkan rudal ke berbagai negara tetangga yang menampung pangkalan militer AS.
Meskipun AS dan Iran sempat menyetujui gencatan senjata pada April dan menandatangani memorandum perdamaian berkat mediasi Pakistan pada Juni 2026, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Implementasi perdamaian dilaporkan gagal di lapangan, yang akhirnya memicu bentrokan senjata terbuka antara kedua negara selama dua minggu berturut-turut.
Dalam situasi yang memanas ini, insiden serangan terhadap kapal dagang Iran di Laut Kaspia pada akhir Juli 2026 hampir saja menyeret Ukraina lebih dalam ke dalam pusaran konflik bersenjata Iran. Namun, langkah diplomasi cepat dan permintaan maaf dari Ukraina berhasil mencegah terbentuknya front pertempuran baru di kawasan tersebut.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.