— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren pelemahannya pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026. Sentimen negatif dari bursa Wall Street yang ditutup melemah akibat lonjakan imbal hasil obligasi pasca The Fed mempertahankan suku bunga acuan diperkirakan akan membebani pasar domestik.

Meskipun demikian, beberapa faktor positif turut mewarnai pergerakan IHSG. Laporan kinerja keuangan emiten yang mulai dirilis dan kenaikan harga mayoritas komoditas berpeluang memberikan sentimen positif. CGS International Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan rentang support di level 6.000-5.910 dan resistance di 6.180-6.270.

Perdagangan kemarin di bursa Wall Street ditutup melemah signifikan. Hal ini dipicu oleh sinyal dari pasar obligasi terkait kekhawatiran bahwa The Fed terlambat dalam menyikapi kenaikan inflasi. Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan rutinnya membuat imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun melonjak 7 basis poin ke level di atas 4,67%. Sementara itu, imbal hasil untuk tenor 30 tahun naik 10 basis poin ke level di atas 5,2%, yang merupakan imbal hasil tertinggi sejak tahun 2007.

Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan memang diambil, namun terdapat tiga anggota yang menginginkan adanya kenaikan. Gubernur The Fed Kevin Warsh dilaporkan gagal meyakinkan investor di pasar obligasi terkait perbedaan pandangan tersebut. Faktor negatif tambahan datang dari lonjakan harga minyak mentah dunia setelah Donald Trump mengancam akan melakukan serangan besar ke Iran.

Menyikapi kondisi pasar, CGS International Sekuritas Indonesia memberikan rekomendasi saham untuk aktivitas trading pada Kamis, 30 Juli 2026. Saham-saham yang direkomendasikan adalah AKRA, ESSA, BFIN, BRPT, WIIM, dan HMSP.