Detak Media — Di tengah pesatnya era digitalisasi, pelestarian tradisi dan budaya menjadi kunci penting untuk menjaga identitas bangsa Indonesia. Budaya tidak boleh hanya menjadi catatan sejarah, melainkan harus diwariskan kepada generasi penerus.
Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu Eyang Kiai Ageng Gribig di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tradisi penyebaran penganan berbahan tepung beras ini berawal dari Kiai Ageng Gribig sebagai metode dakwah Islam di tanah Jawa. Beliau, yang memiliki nama asli Syekh Wasibagno Timur, dikenal sebagai ulama besar keturunan Raja Majapahit Brawijaya V.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam puncak acara Grebeg Ageng Saparan Andum Apem YaaQawiyyu di Kecamatan Jatinom, Klaten, Jumat (31/7), menyampaikan rasa syukur atas limpahan rahmat Tuhan yang memungkinkan berkumpulnya masyarakat dalam keadaan sehat.
Tahun ini, Grebeg Saparan mengusung tema “Ingaluhur Rinasa Trusthaning Gusti”. Tema tersebut mengingatkan pentingnya kerendahan hati, tawakal, dan kepercayaan penuh kepada Tuhan, seiring dengan keteladanan Kiai Ageng Gribig dalam berdakwah yang penuh kelembutan, kebijaksanaan, dan keikhlasan.
Rangkaian acara Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu tahun ini dimulai pada 16 Juli 2026 dengan Ambuko Songsong Winadi, menandai masuknya bulan Safar. Kegiatan dilanjutkan dengan Semakan Al Qur’an Bil Qhoib, Khataman Al Qur’an, Maulid Al Barzanji, haul, festival seni budaya selama seminggu, serta Kirab Gunungan Apem dari kantor Kecamatan Jatinom menuju Masjid Gedhe Jatinom.
Menko Airlangga mengapresiasi upaya seluruh pihak yang telah menjaga dan melestarikan tradisi ini. “Atas nama keluarga besar dzurriyah Kiai Ageng Gribig, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, para ulama, tokoh masyarakat, relawan, Pemda Klaten, aparat keamanan, dan seluruh warga yang telah menjaga serta melestarikan tradisi luhur ini dari generasi ke generasi. Setuju kalau tradisi ini dipertahankan 400 tahun lagi? Kalau setuju, ayo kita pertahankan 400 tahun lagi,” tegas Airlangga.
Jumlah pengunjung yang hadir setiap tahunnya terus bertambah. Diperkirakan pada hari puncak acara, jumlah pengunjung mencapai 50 ribu orang. Airlangga mengapresiasi kontribusi masyarakat Klaten dalam melanjutkan tradisi dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia.
“Kita berharap bahwa apa yang diajarkan Kiai Ageng Gribig untuk terus dilanjutkan, terutama untuk kita mendorong nilai-nilai perekonomian masyarakat, nilai-nilai kebahagiaan dari masyarakat. Sekali dalam setahun kita guyub rukun untuk menikmati apem,” ujar Airlangga.
Tradisi ini memberikan dampak positif signifikan terhadap perekonomian lokal. Terjadi lonjakan pendapatan bagi pelaku usaha mikro di sekitar lokasi acara, seperti pedagang kaki lima dan penyedia oleh-oleh. Para pembuat dan penjual kue apem juga kebanjiran pesanan, dengan total produksi mencapai 6 hingga 7 ton, melibatkan warga lokal dan daerah tetangga.
Selain itu, sektor jasa turut merasakan manfaatnya. Pengelola parkir, penyedia transportasi lokal, serta pemilik warung dan angkringan mampu meraup keuntungan dari membludaknya pengunjung dan wisatawan. “Terdapat juga pemberdayaan sektor jasa yang diberikan oleh warga sekitar, seperti pengelola parkir, penyedia transportasi lokal, dan warga yang membuka warung atau angkringan juga mampu mendulang keuntungan dari membludaknya pengunjung dan wisatawan yang datang selama rangkaian acara,” jelas Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto.
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Ketua BKSAP DPR RI Ravindra Airlangga, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Tim Ahli Menko Perekonomian Boo Hyung Lee, Tim Asistensi Menko Perekonomian Abdul Kodir Djaelani, Kepala Biro Umum dan SDM Kemenko Perekonomian Hari Nugroho, serta jajaran Forkompimda Kabupaten Klaten.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.