— Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo mengimbau seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Jepang untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mematuhi setiap arahan dari otoritas setempat. Imbauan ini dikeluarkan menyusul guncangan gempa berkekuatan Magnitudo 7,1 yang menerjang Prefektur Kumamoto pada Selasa sore.

Gempa bumi tersebut terjadi sekitar pukul 16.35 waktu setempat. Hingga kini, KBRI Tokyo mengonfirmasi belum menerima laporan mengenai adanya WNI yang menjadi korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pihak perwakilan RI terus memantau perkembangan situasi.

“Kepada seluruh warga Indonesia di wilayah Prefektur Kumamoto agar tetap tenang dan waspada. Utamakan keselamatan diri dan keluarga serta terus memantau informasi resmi perkembangan situasi melalui Japan Meteorological Agency (JMA),” ujar Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Tokyo, Muhammad Al Aula, dalam keterangan resminya.

Selain itu, KBRI Tokyo juga mengimbau WNI di wilayah terdampak untuk tetap mengaktifkan telepon seluler dan menghemat penggunaan daya baterai. Hal ini penting agar komunikasi dan koordinasi dalam situasi darurat dapat terus berjalan lancar.

Muhammad menambahkan bahwa KBRI Tokyo terus memantau kondisi para warga Indonesia di lapangan melalui komunikasi intensif dengan jejaring komunitas WNI di Kumamoto dan sekitarnya. Pihaknya juga berkoordinasi secara berkala dengan otoritas setempat di Prefektur Kumamoto.

Layanan Kontak Darurat

Bagi WNI yang terdampak langsung atau mengetahui adanya warga Indonesia yang membutuhkan bantuan darurat, dapat segera menghubungi saluran siaga (hotline) resmi berikut:

  • KBRI Tokyo: +81-80-3506-8612 / +81-80-4940-7419
  • KJRI Osaka: +81-80-3113-1003

Konteks Geografis dan Demografis

Jepang merupakan salah satu negara yang berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), menjadikannya sebagai salah satu wilayah yang paling sering mengalami aktivitas seismik dan gempa bumi di dunia. Prefektur Kumamoto sendiri memiliki riwayat gempa besar yang destruktif, seperti peristiwa gempa beruntun pada April 2016 yang menimbulkan kerusakan infrastruktur cukup parah.

Hal ini membuat otoritas Jepang secara berkala memperbarui sistem peringatan dini dan standar mitigasi bencana secara ketat. Di sisi lain, jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jepang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik sebagai pekerja migran, tenaga magang (jitsuseisei), pelajar, maupun menetap bersama keluarga. Prefektur Kumamoto dan sekitarnya di wilayah Kyushu menjadi salah satu destinasi bagi tenaga kerja dan mahasiswa asal Indonesia.

Keberadaan jejaring komunikasi yang cepat antara perwakilan RI (KBRI/KJRI) dengan komunitas lokal WNI menjadi krusial untuk memastikan keselamatan dan penanganan cepat saat terjadi bencana alam di Negeri Sakura tersebut.