— JAKARTA – Penjabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memastikan bahwa arah kebijakan moneter bank sentral akan tetap konsisten meski terjadi pergantian kepemimpinan. Prioritas utama BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Destry menjelaskan bahwa seluruh bauran kebijakan yang telah ditempuh BI akan terus dipertahankan, sehingga tidak ada perubahan arah kebijakan dibandingkan sebelum transisi kepemimpinan. “Saya ingin menekankan bahwa dengan formasi kami sekarang saat ini, posisi kebijakan Bank Indonesia tetap sama. Tidak berubah dibandingkan dengan stance sebelumnya,” kata Destry dalam pertemuan daring dengan para redaktur media di Parapat, Sumatera Utara, pada Jumat (31/7/2026).

Pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia terjadi setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada 26 Juli 2026, mengakhiri masa jabatannya yang berlangsung sekitar delapan tahun. Sesuai Undang-Undang Bank Indonesia, apabila terjadi kekosongan jabatan, tugas Gubernur BI dijalankan sementara oleh Deputi Gubernur Senior sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga Presiden mengusulkan calon gubernur definitif yang kemudian memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Lebih lanjut, Destry memaparkan bahwa BI akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Bank sentral juga terus melakukan intervensi di pasar, baik melalui pasar spot maupun instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna memperkuat stabilitas sektor eksternal.

Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global masih tinggi, terutama dipicu oleh prospek suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang diperkirakan bertahan pada level tinggi lebih lama (higher for longer). Pada pertengahan pekan lalu, Rabu (29/7/2026), The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%, namun tetap memberikan sinyal adanya potensi kenaikan suku bunga di periode mendatang.

Kondisi tersebut, ditambah dengan dinamika inflasi global, membuat BI tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi agar tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan. Selain fokus pada stabilitas moneter, BI juga memastikan berbagai kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tetap berjalan melalui instrumen makroprudensial dan sistem pembayaran.

Di sektor perbankan, BI terus berupaya memperkuat fungsi intermediasi agar penyaluran kredit kepada dunia usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor-sektor prioritas terus meningkat. Destry menambahkan, BI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Dalam pengendalian inflasi pangan, BI tetap mengoptimalkan sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). “Kami tetap memfokuskan stabilitas dengan mengoptimalkan berbagai instrumen dan berbagai kebijakan yang kami miliki. Untuk pertumbuhan, tentu kami akan mengoptimalkan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, atau termasuk juga kebijakan kami dalam mengembangkan UMKM dan juga ekonomi syariah pula dan juga termasuk ekonomi hijau,” ujar Destry.