— JAKARTA – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, sembari tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa meskipun Bank Sentral Amerika Serikat (the Federal Reserve/the Fed) telah mengindikasikan tidak akan menaikkan suku bunga acuannya (*Fed Funds Rate*/FFR), pernyataan dari Chairman the Fed mengindikasikan adanya kekhawatiran terhadap situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya kondusif. Pasar kini memperkirakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama (*higher for longer*), dengan FFR saat ini berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

“Situasinya, suku bunga tinggi, *yield* Treasury Bond tinggi, ini akan berdampak ke *emerging market* seperti Indonesia. Hal ini tentu akan mempengaruhi kebijakan BI,” ujar Destry saat menyampaikan *inspiring speech* secara daring dalam kegiatan *editor briefing* BI di Parapat, Simalungun, Jumat (31/7/2026).

Destry memaparkan bahwa salah satu tantangan utama Bank Indonesia dalam jangka pendek adalah menjaga stabilitas rupiah dan pengendalian inflasi. Menanggapi hal tersebut, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21-22 Juli 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, BI-Rate, pada level 5,75%.

“Kita masih melihat ketidakstabilan dari aset-aset domestik seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI (*Sekuritas Rupiah Bank Indonesia*). Kita juga melihat tantangan dalam inflasi pangan,” jelasnya.

Untuk menjaga nilai tukar rupiah, Destry menekankan pentingnya masuknya dana asing (*inflow*). Ia menambahkan bahwa dengan kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) sejak RDG BI bulan Mei hingga Juni 2026, terjadi *repricing* dari aset-aset domestik. Upaya ini telah membuahkan hasil, di mana *inflow* ke instrumen SBN dan SRBI dilaporkan mencapai Rp195 triliun atau setara dengan US$10 miliar pada minggu ini.

“Ini sangat penting untuk memperkuat cadangan devisa, dan rupiah dapat kita *manage* lebih stabil,” pungkas Destry.