Detak Media — JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter untuk meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan mengembalikannya ke nilai fundamental. Stabilitas nilai tukar menjadi prasyarat utama yang dijaga BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pada penutupan perdagangan Rabu (29/7/2026), rupiah tercatat menguat 10 poin atau 0,06% terhadap dolar AS, ditutup di level Rp18.073 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada hari yang sama juga menunjukkan penguatan tipis di level Rp18.087 per dolar AS.
Direktur Eksekutif Senior Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat di tengah ketidakpastian global yang tinggi. Hal ini konsisten dilakukan untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi.
“BI tidak hanya mengandalkan kebijakan suku bunga acuan (BI-Rate), tetapi instrumen moneter lain juga dipertajam. BI menjalankan triple intervention melalui Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” jelas Erwin dalam pernyataan resmi, Rabu (29/7/2026).
Selain itu, BI mengoptimalkan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.
Erwin menambahkan, penerbitan SRBI ke depan akan terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, BI juga memperkuat strategi menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan. Kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus dipercepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Faktor Domestik Pengaruhi Rupiah
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Dipo Satria Ramli, berpendapat bahwa pelemahan nilai tukar rupiah lebih didominasi oleh faktor domestik, meskipun negara lain mengalami pemulihan nilai tukar. Faktor yang menghambat penguatan rupiah meliputi ekspektasi investor terhadap kinerja perekonomian domestik dan defisit neraca perdagangan.
“Menurut kami mungkin lebih banyak faktor domestik. Faktor global itu pengaruhnya mungkin 30-40%, domestik mungkin 60-70%. Kenapa saya bilang begitu? Karena kalau kita lihat trennya, itu rupiah yang melemah paling dalam di Asia,” kata Dipo dalam Core Mid Year Economic Review 2026 di Jakarta pada Rabu (29/7/2026).
Neraca perdagangan tercatat defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, setelah 72 bulan beruntun mengalami surplus. Nilai ekspor Mei 2026 turun 5,73% menjadi US$23,2 miliar, sementara nilai impor naik 22,16% menjadi US$24,81 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Itu pertama kalinya neraca perdagangan negatif setelah 6 tahun. Ini bukan tanda kita krisis, tapi ini memang adalah early warning bahwa bantalan eksternal kita menipis,” terang Dipo. Ia membandingkan dengan mata uang negara lain seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina yang cenderung menguat.
Fluktuasi nilai tukar rupiah juga tercermin pada premi risiko investasi (credit default swap/CDS) yang mendekati 100, naik dari angka 70 di awal tahun. Tingginya CDS mengindikasikan peningkatan persepsi risiko terhadap kemampuan bayar Indonesia, serta sorotan investor terhadap seringnya perubahan kebijakan di Indonesia.
“Isu unpredictability policy selalu muncul, termasuk dalam laporan lembaga pemeringkat. Walaupun peringkat kredit Indonesia tetap terjaga, risiko kebijakan yang berubah-ubah masih menjadi sorotan,” tutur Dipo.
Dipo menjelaskan, BI telah melakukan triple intervention dan menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin pada Mei-Juni 2026 untuk menekan pelemahan rupiah. BI juga memperkuat strategi menjaga likuiditas pasar uang dan perbankan.
Direktur Riset Bidang Makroekonomi Kebijakan Fiskal dan Moneter Core Indonesia, Akhmad Akbar Susanto, menilai BI menghadapi dilema antara menjaga stabilitas rupiah atau sektor riil. Keputusan menaikkan suku bunga acuan menunjukkan BI lebih memilih menjaga nilai tukar rupiah.
“Kalau yang terjadi adalah, sudah tingkat suku bunganya dinaikkan, nilai tukar rupiahnya tidak menguat, nah berarti tekanannya jadi dua. Tapi kalau yang terjadi adalah, nilai tukar rupiahnya kemudian menguat, maka berarti ada manfaatnya. Tinggal dibandingkan nanti, apakah lebih besar manfaatnya, ataukah lebih besar konsekuensinya kepada sektor riil,” tutur Akhmad.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.