— JAKARTA – India dilaporkan mengalami lonjakan arus masuk emas tidak resmi setelah pemerintah menaikkan tarif impor logam mulia. Kondisi ini memperluas celah bagi pelaku pasar abu-abu dan merugikan para pedagang emas resmi.

World Gold Council (WGC) mencatat bahwa kenaikan tarif impor emas lebih dari dua kali lipat menjadi 15% pada Mei 2026 menjadi pemicu utama fenomena ini. Langkah pemerintah India saat itu bertujuan untuk menekan permintaan, mengurangi defisit perdagangan, dan meredakan tekanan pada nilai tukar rupee.

Sachin Jain, kepala eksekutif operasi WGC di India, menjelaskan bahwa selisih tarif yang signifikan mendorong industri. “Arbitrase-nya sangat besar. Maksud saya, dengan bea masuk 15% dan GST 3%, ada perbedaan 18%, dan itu hampir mendorong seluruh industri,” katanya, dikutip dari Kitco News, Jumat (31/7/2026).

Menurut Jain, arus masuk emas melalui pasar abu-abu dan gangguan yang ditimbulkannya berdampak negatif pada pemain industri yang terorganisir. Data dari pemerintah India menunjukkan peningkatan signifikan dalam penyitaan emas. Antara 13 Mei dan 30 Juni, pihak berwenang menyita hampir dua kali lipat jumlah emas dibandingkan periode 1 April hingga 12 Mei 2026, naik dari 86,16 kg menjadi 160,91 kg.

Sebelumnya, penyelundupan emas di India tercatat menurun drastis. Data WGC menunjukkan penurunan dari 156,1 ton pada 2024 menjadi 69,2 metrik ton pada 2025, dan terus menurun lagi menjadi 20,4 ton pada tahun yang sama setelah India memangkas bea impor emas.

Namun, kebangkitan pasar emas gelap baru-baru ini diperkirakan membuat impor ilegal di India melebihi 100 ton pada 2026. Sementara itu, impor emas bersih di India pada Juni 2026 dilaporkan menurun 23% secara tahunan menjadi 98,1 ton, level kuartalan terendah sejak September 2020 saat lockdown pandemi membatasi permintaan.

Permintaan emas pada kuartal Juni juga menurun 6% dari tahun sebelumnya menjadi 131,4 ton. Penurunan pembelian perhiasan lebih besar daripada lonjakan permintaan investasi. “Permintaan kemungkinan akan membaik pada paruh kedua tahun ini jika harga tetap stabil, karena banyak konsumen yang melewatkan kenaikan harga sebelumnya diperkirakan akan kembali ke pasar,” ujar Jain menambahkan.