— Intervensi mata uang oleh Jepang untuk menahan pelemahan yen bukanlah hal baru. Namun, tindakan yang terjadi pada 30-31 Juli 2026 menandai perbedaan signifikan karena Amerika Serikat tidak hanya memberikan dukungan politik, melainkan turut serta membeli yen melalui Federal Reserve Bank of New York.

Upaya terkoordinasi ini berhasil mendorong yen kembali ke kisaran 155–157 per dolar AS, setelah sempat mendekati level 164, terendah dalam empat dekade. Operasi gabungan ini merupakan yang pertama kali terjadi sejak tahun 2011. Kini, pertanyaan utama bukan lagi sekadar apakah yen akan menguat, melainkan sejauh mana keterlibatan AS akan berlanjut, efektivitasnya, dan apakah akan membentuk zona pertahanan baru di sekitar angka 160 yen per dolar AS.

Pemerintah AS melakukan masuk ke pasar melalui Federal Reserve Bank of New York, yang bertindak atas nama Departemen Keuangan AS. Tindakan ini tidak mengubah arah kebijakan moneter Federal Reserve. Artinya, penjualan yen kini tidak hanya menjadi pertaruhan terhadap Tokyo, melainkan pasar juga harus memperhitungkan potensi tindakan lanjutan dari Washington, termasuk pada jam perdagangan Amerika. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan telah menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi lanjutan jika pergerakan yen kembali tidak teratur.

Namun, efektivitas intervensi ini sangat bergantung pada fundamental pasar yang belum berubah. Operasi tersebut dilakukan di tengah perbedaan imbal hasil (yield) yang cukup besar antara Amerika Serikat dan Jepang. Menjelang intervensi, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,7%, sementara obligasi pemerintah Jepang sekitar 2,8%–2,9%. Selisih hampir 200 basis poin ini membuat aset dolar tetap lebih menarik bagi investor.

Kondisi ini mendukung transaksi carry trade, di mana investor meminjam dana dalam yen untuk diinvestasikan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi. Tekanan terhadap yen juga diperparah oleh biaya impor energi Jepang dan kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal negara tersebut. Oleh karena itu, intervensi lebih efektif dalam menghentikan percepatan pelemahan daripada membalikkan arahnya secara permanen. Selama perbedaan imbal hasil tetap lebar, pasar akan terus memiliki alasan fundamental untuk menjual yen.

Alasan resmi dari kedua negara untuk melakukan intervensi adalah untuk mencegah volatilitas berlebihan dan pergerakan pasar yang tidak teratur meluas menjadi gangguan yang lebih besar. Namun, kepentingan AS juga dapat dilihat dari hubungan antara pasar yen, obligasi Jepang, dan surat utang pemerintah Amerika. Pelemahan yen dapat meningkatkan harga impor dan ekspektasi inflasi di Jepang. Investor kemudian mungkin menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah Jepang. Kenaikan imbal hasil obligasi Jepang (JGB) dapat membantu mempersempit selisih dengan AS dan secara teori mendukung yen, tetapi juga meningkatkan biaya pembiayaan bagi pemerintah Jepang yang memiliki beban utang sangat besar.

Jika tekanan terus berlanjut, Jepang berpotensi menggunakan cadangan devisa yang dimilikinya untuk membeli yen. Pada akhir Juni 2026, cadangan devisa Jepang mencapai sekitar US$1,287 triliun, menjadikannya yang terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Dari jumlah tersebut, sekitar US$929 miliar berbentuk surat berharga. Cadangan sebesar ini memberikan Jepang kemampuan intervensi yang luas. Namun, sebagian besar aset likuid tersebut terkait dengan pasar dolar dan surat utang pemerintah AS, mengingat Jepang memegang sekitar US$1,14 triliun dalam bentuk Treasury AS.

Di sinilah potensi rangkaian risiko muncul: pelemahan yen dapat memicu kenaikan ekspektasi inflasi, yang kemudian menaikkan imbal hasil JGB. Hal ini dapat mendorong Jepang untuk meningkatkan intervensi dengan menjual aset dolarnya, yang pada gilirannya dapat memberikan tekanan pada pasar Treasury AS. Oleh karena itu, keterlibatan Washington dapat diartikan sebagai upaya untuk mencegah rangkaian risiko tersebut berkembang lebih jauh.

Angka 160 yen per dolar AS bukanlah garis pertahanan mekanis yang otomatis memicu tindakan. Setidaknya ada tiga indikator yang perlu diperhatikan. Pertama, kecepatan pergerakan. Kenaikan nilai tukar US$/JPY sebesar dua atau tiga yen dalam satu atau dua sesi perdagangan dianggap lebih berbahaya daripada pelemahan dengan besaran yang sama selama beberapa minggu. Pemerintah cenderung lebih bereaksi terhadap pergerakan yang cepat dan searah ketimbang angka tertentu.

Kedua, eskalasi pernyataan pejabat. Pernyataan biasanya dimulai dari “mengamati dengan cermat,” berkembang menjadi “mengamati dengan rasa urgensi,” dan terakhir “siap mengambil tindakan tegas.” Semakin keras dan sering peringatan disampaikan, semakin tinggi kemungkinan intervensi. Ketiga, pola transaksi pasar. Penurunan US$/JPY secara tiba-tiba beberapa yen, disertai lonjakan volume perdagangan dan tanpa berita ekonomi yang signifikan, dapat mengindikasikan intervensi pemerintah. Kepastian biasanya baru diperoleh setelah angka resmi intervensi diumumkan.

Selisih imbal hasil juga perlu dipantau. Jika yen terus melemah ketika selisih imbal hasil AS–Jepang melebar, tekanan tersebut dapat dianggap didukung oleh fundamental. Namun, jika yen terus melemah saat selisih imbal hasil justru menyempit, spekulasi atau hilangnya kepercayaan pasar kemungkinan lebih dominan. Dengan demikian, angka 160 dapat menjadi zona intervensi tidak resmi apabila level tersebut dilewati secara cepat, searah, dan mengabaikan peringatan pemerintah.

Dalam jangka pendek, koordinasi AS–Jepang dapat membantu menahan yen di kisaran pertengahan 150-an dan membuat posisi jual spekulatif terhadap yen menjadi lebih berisiko. Namun, pasar kemungkinan akan kembali menguji wilayah 160 jika imbal hasil AS meningkat, Bank of Japan terlalu berhati-hati, atau tekanan fiskal Jepang semakin membesar.

Pertanyaan yang dihadapi pasar saat ini bukanlah apakah Jepang memiliki cadangan devisa yang cukup, karena kemampuannya masih sangat besar. Yang sedang diuji adalah seberapa dalam komitmen Washington. Apakah keterlibatan AS ini hanya merupakan operasi satu kali untuk meredakan kepanikan pasar, ataukah ini merupakan awal dari kesediaan yang lebih panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi sekutu utamanya di Asia? Jawaban atas pertanyaan inilah yang akan lebih menentukan arah yen ke depan, dibandingkan angka 160 itu sendiri.