Detak Media — Indeks-indeks saham Wall Street ditutup ambruk pada perdagangan Kamis (23/7/2026) waktu setempat, melanjutkan pelemahan dua hari beruntun. Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, ditambah anjloknya saham Alphabet dan Tesla usai laporan keuangan, memicu aksi jual besar-besaran di Wall Street.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 506,93 poin (0,97%) menjadi 51.711,65. Sementara itu, S&P 500 melemah 1,21% ke 7.408,30, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 2,15% ke 25.137,69.
Tekanan terbesar pada Nasdaq datang dari saham Alphabet yang merosot sekitar 7% dan Tesla yang ambles 14% setelah keduanya merilis laporan keuangan kuartal II yang mengecewakan pasar.
Sentimen negatif juga datang dari pasar energi. Harga minyak Brent melonjak 7% dan ditutup di US$ 100,69 per barel, menembus level psikologis US$ 100 untuk pertama kalinya sejak akhir Mei. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 6% menjadi US$92,19 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu klaim kelompok Houthi yang didukung Iran atas serangan terhadap dua tanker Arab Saudi di Laut Merah. Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur Iran apabila terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.
Laporan Axios juga menyebut Trump sedang mempertimbangkan serangan militer berskala besar terhadap Iran, meski belum menetapkan waktu pelaksanaannya. Pernyataan tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran investor terhadap meluasnya konflik di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak ikut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 4,7%, level tertinggi sejak Januari 2025, sedangkan yield obligasi dua tahun naik hingga 4,37%.
Arah Kebijakan The Fed
Strategis Investasi Baird Ross Mayfield mengatakan, kenaikan yield obligasi jangka pendek menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Menurut data CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September kini mencapai lebih dari 80%, meningkat tajam dibanding sekitar 52% sepekan lalu.
“Fundamental pasar masih cukup kuat untuk jangka menengah. Namun dalam dua hingga tiga bulan ke depan, perhatian investor kemungkinan akan kembali didominasi oleh perkembangan konflik Iran,” ujar Mayfield.
Kekecewaan Laporan Keuangan Korporasi
Dari sisi korporasi, saham Alphabet tertekan setelah induk Google tersebut menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) 2026 menjadi US$195 miliar hingga US$205 miliar, dari proyeksi sebelumnya US$180 miliar hingga US$190 miliar.
Langkah itu memicu kekhawatiran investor terhadap besarnya biaya pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kekhawatiran serupa juga menyeret saham emiten teknologi besar lainnya seperti Meta Platforms, Microsoft, dan Amazon, yang seluruhnya ditutup di zona merah.
Sementara itu, saham Tesla terpuruk setelah produsen mobil listrik tersebut melaporkan laba kuartal II yang jauh di bawah ekspektasi pasar. Selain itu, beban operasional perusahaan meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.
Baik Alphabet maupun Tesla juga mencatat arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal II, yang semakin memperburuk sentimen investor terhadap sektor teknologi.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.