— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali sesi perdagangan Jumat (7/8/2026) dengan catatan positif. Penguatan ini ditopang oleh keyakinan terhadap fundamental ekonomi domestik yang dinilai tetap kokoh, meskipun pasar global masih dihantui ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan menunggu data penting ketenagakerjaan Amerika Serikat.

Pada penutupan sesi pertama, IHSG berhasil naik 44,77 poin atau 0,71% ke level 6.388. Sementara itu, bursa saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Pelaku pasar di Asia cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat, yang dianggap sebagai salah satu indikator arah kebijakan suku bunga The Fed.

Pilarmas Investindo Sekuritas mengemukakan bahwa penguatan IHSG hari ini sangat terbantu oleh ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Kekuatan ini terbukti mampu membentengi pasar domestik dari meningkatnya ketidakpastian di kancah global.

Salah satu faktor pendukung datang dari data terbaru Bank Indonesia (BI). Cadangan devisa per akhir Juli 2026 tercatat sebesar US$ 145,3 miliar, mengalami sedikit penurunan dari posisi Juni yang sebesar US$ 145,6 miliar. Namun, Pilarmas menilai bahwa angka tersebut masih sangat memadai untuk menjaga stabilitas eksternal. “Meski demikian, level tersebut masih dinilai sangat memadai untuk menjaga stabilitas eksternal,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Jumat (7/8/2026).

Jumlah cadangan devisa ini setara dengan kemampuan membiayai impor selama 5,5 bulan, atau 5,3 bulan jika termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh melampaui standar kecukupan internasional yang dipatok sekitar tiga bulan impor.

Kondisi ini, menurut Pilarmas, semakin menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat. Hal ini berkontribusi dalam menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

Sentimen Global Tetap Membayangi

Di sisi lain, perkembangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi perhatian utama pelaku pasar. Ketegangan di kawasan tersebut dilaporkan kembali meningkat, menyusul adanya laporan pembatasan akses kapal-kapal AS dan Israel di Selat Hormuz. Insiden ini memicu kenaikan harga minyak dunia dan menimbulkan kekhawatiran baru terkait potensi inflasi global.

“Situasi tersebut membuat investor semakin fokus pada rilis data ketenagakerjaan AS. Data Nonfarm Payrolls diperkirakan menjadi penentu ekspektasi pasar terhadap langkah The Fed dalam menentukan arah suku bunga pada pertemuan berikutnya,” tambah Pilarmas.

Mengutip laporan dari Financial Times, Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menyatakan bahwa bank sentral siap untuk menaikkan suku bunga pada bulan September mendatang apabila tekanan inflasi terus bertahan dalam beberapa pekan ke depan.

“Dari dalam negeri, pasar juga menantikan pengumuman gubernur definitif Bank Indonesia. Pelaku pasar berharap sosok yang dipilih mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter di tengah dinamika ekonomi global,” jelas Pilarmas.

Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar meliputi VOKS, ROCK, INPP, ISAT, dan TRUK. Sebaliknya, saham yang mengalami pelemahan terdalam antara lain TALF, TGUK, BACH, KDTN, dan VIVA.

Pilarmas Investindo Sekuritas juga merekomendasikan investor untuk melakukan pembelian saham TOBA, dengan menetapkan level support di angka 515 dan resistance di 600.