— Militer Ukraina dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap dua kilang minyak berkapasitas besar milik Rusia. Serangan yang terjadi pada malam hari tersebut menandai serangan pertama yang menyasar fasilitas pengolahan minyak utama Rusia dalam kurun waktu hampir dua minggu.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi melalui akun Telegram resminya bahwa serangan tersebut berhasil menghantam kilang minyak milik Rosneft PJSC di Ryazan, yang berlokasi sekitar 120 kilometer dari Moskow. Selain itu, kilang minyak milik Lukoil PJSC di Perm, yang berjarak sekitar 1.500 kilometer di timur ibu kota Rusia, juga dilaporkan terkena dampak serangan.

Menurut Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, serangan di Ryazan telah memicu kebakaran di area fasilitas tersebut. Kilang Ryazan memiliki kapasitas pengolahan hingga 340.000 barel minyak mentah per hari dan baru saja beroperasi kembali awal bulan ini setelah sempat diserang pada pertengahan Mei 2026. Kilang Perm, yang juga berulang kali menjadi sasaran drone Ukraina tahun ini, memiliki kapasitas olah sekitar 260.000 barel per hari.

Citra satelit dari Fire Information for Resource Management System (FIRMS) milik NASA mendeteksi adanya anomali panas di area kilang Ryazan. Tiga titik panas baru juga terdeteksi di fasilitas kilang Perm, mengindikasikan terjadinya kebakaran pascaserangan. Hingga berita ini diturunkan, pihak Rosneft maupun Lukoil belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.

Sebelumnya, Ukraina telah mengintensifkan serangan terhadap industri hilir migas Rusia sepanjang Mei hingga pertengahan Juli 2026. Tujuannya adalah untuk membatasi pasokan bahan bakar minyak (BBM) bagi militer Rusia dan memicu kelangkaan bahan bakar di dalam negeri. Strategi ini sempat memaksa pemerintah Rusia memberlakukan larangan ekspor bensin, diesel, dan jet fuel.

Dalam dua pekan terakhir, Ukraina sempat mengalihkan fokus serangannya ke kapal-kapal komersial di Laut Hitam dan Laut Azov sebelum akhirnya kembali menyerang kilang darat Rusia. Serangan terhadap fasilitas kilang minyak dan infrastruktur energi memang menjadi strategi krusial dalam perang antara kedua negara.

Bagi Ukraina, melumpuhkan industri hilir migas Rusia bertujuan merusak rantai pasok bahan bakar bagi mesin perang Moskow sekaligus menekan pendapatan ekonomi negara tersebut. Di sisi lain, gangguan pada produksi kilang minyak Rusia berdampak langsung pada stabilitas pasar energi global, mengingat Rusia merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak mentah terbesar di dunia.