— Rencana Amerika Serikat untuk memperluas penggunaan senjata nuklir taktis dalam potensi konflik dinilai dapat memperumit hubungan diplomatik dengan negara-negara pemilik senjata nuklir lainnya. Kebijakan baru ini juga dikhawatirkan dapat meningkatkan ancaman terjadinya perang nuklir di tingkat global.

Peringatan tersebut disampaikan oleh Asosiasi Pengendalian Senjata (Arms Control Association/ACA) menyusul laporan dari NBC News yang mengungkapkan Departemen Pertahanan AS (Pentagon) tengah menyusun strategi nuklir baru. ACA menyatakan strategi tersebut berfokus pada kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis jarak pendek jika timbul konflik bersenjata dengan Rusia atau China.

“Kami meyakini penambahan opsi ‘serangan nuklir taktis’ akan memperumit hubungan pencegahan nuklir (nuclear deterrence) yang rapuh antara Amerika Serikat dengan negara-negara pemilik senjata nuklir lainnya, sekaligus meningkatkan risiko terjadinya perang nuklir,” tegas ACA dalam pernyataan resminya sebagaimana dikutip NBC News.

Kritik ACA dan Potensi Perlombaan Senjata

ACA secara tegas menentang penguatan peran senjata nuklir taktis dalam doktrin pertahanan AS. Pengembangan jenis senjata baru ini dinilai dapat memicu persepsi buruk dari negara lawan, yang menganggap AS siap melancarkan serangan pertama (first strike). Menurut ACA, jika AS menolak konsep perluasan senjata tersebut, dasar untuk memperbesar persenjataan militer sebagai respons atas pertumbuhan kekuatan Rusia atau China justru akan hilang. Langkah menahan diri ini dinilai dapat membuka jalan bagi negosiasi dan diplomasi pengurangan senjata nuklir internasional.

Respons Rusia dan Dinamika NATO

Di sisi lain, potensi eskalasi ini memicu perhatian dari pihak Kremlin. Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki niat untuk menyerang negara-negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). “Langkah semacam itu sama sekali tidak masuk akal,” ujar Putin.

Kendati demikian, Rusia terus menyoroti peningkatan kekuatan dan aktivitas militer NATO yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya di dekat perbatasan barat Rusia. Pihak Kremlin menyatakan, meskipun tidak mengancam negara mana pun, Rusia tidak akan mengabaikan berbagai tindakan yang berpotensi membahayakan kepentingan nasionalnya.

Latar Belakang Peninjauan Ulang Strategi Nuklir

Perbedaan senjata nuklir taktis dan strategis terletak pada daya ledak dan jangkauan. Berbeda dengan senjata nuklir strategis yang dirancang untuk menghancurkan kota atau basis musuh skala besar dari jarak jauh, senjata nuklir taktis memiliki daya ledak lebih kecil dan jangkauan lebih pendek. Senjata ini ditujukan untuk penggunaan di medan perang spesifik. Namun, para pakar mengkhawatirkan penggunaan senjata nuklir taktis tetap akan meruntuhkan batasan (taboo) penggunaan nuklir dan dengan cepat memicu pembalasan nuklir skala penuh.

Selama puluhan tahun, doktrin nuklir didasarkan pada perimbangan kekuatan antara AS dan Rusia. Namun, pesatnya modernisasi militer dan perluasan persenjataan nuklir China dalam beberapa tahun terakhir membuat AS mengubah kalkulasi keamanannya. Hal ini mendorong Pentagon untuk merumuskan strategi penangkalan simultan terhadap dua negara adidaya sekaligus.

Ketegangan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir telah memperlemah berbagai traktat pembatasan senjata nuklir internasional, seperti berakhirnya Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF) dan penangguhan partisipasi dalam perjanjian pembatasan senjata strategis. Ketidakpastian regulasi global ini semakin meningkatkan risiko salah kalkulasi militer di antara negara-negara pemilik senjata nuklir.