Detak Media — Bank-bank sentral di seluruh dunia secara agresif menambah kepemilikan emas mereka pada kuartal kedua tahun 2026. World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa pembelian bersih emas mencapai 288,9 ton, angka tertinggi yang pernah tercatat untuk periode tersebut.
Pembelian besar-besaran ini terjadi di tengah fluktuasi harga emas. Meskipun sempat mengalami penurunan sekitar 16%, harga emas kini menunjukkan tren penguatan dan melanjutkan reli untuk hari keempat berturut-turut pada perdagangan Kamis, 6 Agustus 2026. Harga emas hari itu melonjak 1,11% menjadi US$ 4.293,82 per troy ounce.
Bank Nasional Polandia (NBP) memimpin daftar pembeli dengan mengakuisisi 51 ton emas. Langkah ini menegaskan ambisi Warsawa untuk mencapai target cadangan emas sebesar 700 ton.
Posisi kedua ditempati oleh People’s Bank of China yang membeli 33 ton logam mulia. Ini merupakan penambahan kuartalan terbesar bagi China sejak akhir 2023, menandakan percepatan strategi diversifikasi cadangan devisa mereka.
Selain kedua negara tersebut, sejumlah bank sentral lain juga turut menambah koleksi emasnya. Bank sentral Uzbekistan melaporkan pembelian 16 ton, Kazakhstan 15 ton, sementara bank sentral Yordania dan Republik Ceko masing-masing membeli sekitar 6 ton emas.
Namun, tren pembelian ini diimbangi oleh aksi jual dari beberapa negara. Bank sentral Rusia tercatat sebagai penjual emas terbesar pada kuartal kedua 2026 dengan volume sekitar 22 ton. Penjualan ini diduga terkait dengan tekanan pada anggaran federal, di mana emas dicairkan sebagai cadangan likuiditas untuk menutupi defisit.
Turki juga kembali melakukan aksi jual emas, meskipun dalam volume yang lebih kecil, yaitu 4 ton, jauh lebih rendah dibandingkan kuartal pertama tahun 2026.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.