— Ancaman gelombang kedua inflasi masih menghantui perekonomian global akibat meningkatnya persaingan sumber daya strategis dan belanja pemerintah yang terus bertambah. Kendati demikian, kenaikan inflasi tidak secara otomatis akan mendorong reli harga emas. Pergerakan logam mulia ini tetap dipengaruhi oleh sejumlah faktor fundamental lainnya.

Senior Quantitative Analyst World Gold Council, Johan Palmberg, menjelaskan bahwa harga emas lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga riil, pergerakan dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi pertumbuhan ekonomi, serta permintaan dari bank sentral dan investor di Asia.

Menurutnya, jika inflasi kembali meningkat dan diikuti oleh penurunan suku bunga riil, pelemahan dolar AS, atau meningkatnya risiko perlambatan ekonomi, harga emas berpotensi mendapatkan dorongan yang lebih kuat. “Sebaliknya, apabila inflasi memicu bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat dengan suku bunga tinggi lebih lama, harga emas berisiko menghadapi tekanan karena meningkatnya biaya peluang (opportunity cost) memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil,” tulis Palmberg dalam laporan bulanan WGC, Jumat (7/8/2026).

WGC mencatat, harga emas menutup Juli di kisaran US$ 4.027 per ons troi, hampir sama dengan posisi awal bulan setelah beberapa kali menguji level psikologis US$ 4.000 per ons troi. Secara year-to-date (ytd), harga emas masih terkoreksi sekitar 8%.

Berdasarkan Gold Returns Attribution Model (GRAM) milik WGC, stabilnya harga emas selama Juli terutama didorong oleh faktor momentum setelah koreksi tajam pada bulan-bulan sebelumnya. Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi sempat menekan harga emas, tetapi dampaknya sebagian diimbangi oleh pelemahan dolar AS.

Selama Juli, arus dana ke produk exchange traded fund (ETF) berbasis emas juga kembali mencatatkan pertumbuhan positif, terutama di Eropa. Kondisi tersebut menjadi perkembangan yang cukup menggembirakan karena investor Eropa selama ini cenderung mengurangi kepemilikan emas ketika suku bunga riil berada pada level tinggi.

Bank Sentral dan Investor Asia Jadi Penopang

Meskipun risiko inflasi meningkat, WGC menilai kecil kemungkinan dunia mengalami gelombang inflasi seperti pada era 1970-an. Federal Reserve (The Fed) dinilai memiliki komitmen yang lebih kuat dalam menjaga stabilitas harga dibandingkan beberapa dekade lalu.

“Selain itu, kondisi keuangan rumah tangga di AS saat ini dinilai lebih rentan sehingga kenaikan inflasi berkepanjangan berpotensi lebih cepat menekan konsumsi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi,” tambah Palmberg.

WGC menilai, prospek jangka panjang harga emas tetap didukung oleh pembelian bank sentral serta permintaan yang terus meningkat dari investor dan konsumen di Asia. Kedua faktor tersebut menjadi penopang penting bagi harga emas, bahkan ketika suku bunga riil AS masih berada pada level yang relatif tinggi.

Menurut Palmberg, apabila sejarah menjadi acuan, tekanan inflasi maupun perlambatan ekonomi pada akhirnya berpotensi mendorong penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang. Kondisi tersebut diyakini akan kembali menciptakan ruang bagi harga emas untuk menguat, meski tidak harus mengulangi lonjakan signifikan seperti yang terjadi pada 2025.