Detak Media — JAKARTA – Sektor swasta sebenarnya telah terbiasa menghadapi berbagai guncangan atau shock, terutama yang berkaitan dengan lonjakan harga energi. Namun, situasi menjadi berbeda ketika guncangan tersebut bersifat struktural, yang kemudian membutuhkan waktu lebih lama untuk pemulihan.
Hal ini diungkapkan oleh President Director & Group CEO PT Indika Energy Tbk (INDY), Azis Armand, dalam acara Breakfast Forum yang bertajuk “Indonesia di Persimpangan: Menjaga Ambisi, Menjalin Keberlanjutan” di Financial Hall, Graha CIMB Niaga, Jakarta.
Azis menjelaskan bahwa terdapat tiga aktor utama dalam perekonomian, yaitu swasta, pemerintah, dan koperasi. Masing-masing aktor memiliki peran krusial dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
“Dalam menjalankan peran ini, ketidakpastian, shock, maupun krisis adalah hal yang lumrah. Yang penting adalah bagaimana setiap aktor ini merespons perubahan-perubahan yang terjadi,” ujar Azis seperti dikutip dalam keterangan resmi, Jumat (7/8/2026).
Azis menambahkan bahwa krisis energi yang terjadi saat ini bukanlah krisis energi pertama yang dihadapi oleh sektor swasta. Berbagai guncangan, seperti kenaikan harga bahan baku, merupakan bagian dari proses bisnis yang umumnya direspons melalui langkah-langkah strategis oleh perusahaan.
Namun, Azis menekankan bahwa kondisinya akan berbeda apabila guncangan yang terjadi bersifat struktural atau structural shock. Dalam situasi seperti ini, seluruh aktor ekonomi akan membutuhkan waktu untuk melakukan transisi.
“Hal yang berbeda jika yang terjadi berbentuk structural shock. Untuk menghadapi ini, semua aktor dalam perekonomian memerlukan waktu untuk bertransisi,” imbuh Azis.
Selain Azis, acara tersebut juga menghadirkan sejumlah pakar dari Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (ILUNI FEB UI). Para pakar ini turut menyoroti berbagai persoalan penting, mulai dari aspek institusi, produktivitas, persaingan usaha, hingga efektivitas kebijakan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Beberapa pakar yang hadir antara lain Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), M. Chatib Basri; Komisaris Independen PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) sekaligus ekonom, Anton Gunawan; dan Senior Economist Svara Institute, Moekti P. Soejachmoen.
Secara keseluruhan, para pembicara sepakat bahwa menjaga ambisi pembangunan menuju 2045 tidak semata-mata membutuhkan peran negara yang lebih besar. Sebaliknya, kualitas pengaturan, kompetisi pasar yang sehat, penguatan institusi, serta ketepatan dalam memilih instrumen kebijakan menjadi faktor kunci agar ambisi pembangunan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.