— WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum tegas kepada Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dunia. Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang sangat keras jika negosiasi untuk membuka kembali jalur energi krusial ini mengalami kegagalan.

Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri blokade Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat, paling cepat pada Rabu atau Kamis waktu setempat. “Selat tersebut harus segera dibuka, atau mereka akan dihantam sangat keras, dan setelah itu selat pasti akan terbuka,” tegas Trump.

Peluang Kesepakatan Sementara

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan adanya peluang besar terciptanya kesepakatan antara pihak-pihak yang bertikai sebelum akhir pekan. Laporan dari portal berita Axios menyebutkan bahwa pemerintah Amerika Serikat, Iran, dan Oman sedang merampungkan draf kesepakatan sementara. Rencana aturan berdurasi 60 hari ini diharapkan dapat menjamin navigasi yang aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi perairan antara Iran dan Oman.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membenarkan keterlibatan aktif otoritas AS dalam memfasilitasi komunikasi diplomasi yang dimediasi oleh Oman. Di sisi lain, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani dilaporkan telah berdiskusi langsung via telepon dengan Trump untuk meredakan ketegangan regional.

Meskipun demikian, Kementerian Luar Negeri Iran sempat secara resmi membantah adanya dialog langsung dengan Washington. Menanggapi klaim Tehran tersebut, Trump menyebut sikap Iran sebagai tindakan licik dan menegaskan bahwa blokade balasan dari AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan tetap berlaku hingga tercapainya Kesepakatan atau Penyerahan Diri Total.

Eskalasi Militer di Jalur Laut Vital

Ketegangan diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya risiko keamanan bagi armada pelayaran internasional. Pada Selasa, sebuah kapal kargo dilaporkan dihantam oleh proyektil misterius saat melintas di Selat Hormuz lepas pantai Oman, yang menyebabkan satu awak kapal hilang.

Dampak krisis Hormuz juga mengalihkan beban lalu lintas logistik ke Laut Merah. Namun, jalur alternatif ini juga mengalami peningkatan ketegangan setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Pada hari yang sama, kapal berbendera India MSV Faize Noore Oliya dilaporkan tenggelam di Laut Merah dekat pesisir Yaman akibat serangan yang belum diakui oleh pihak manapun. Seluruh awak kapal dilaporkan berhasil diselamatkan.

Selat Hormuz merupakan titik penyempitan maritim paling strategis di dunia, yang melayani transit sekitar seperlima dari total konsumsi minyak mentah global. Konflik bersenjata antara AS dan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 telah mengacaukan stabilitas kawasan Teluk dan mengancam rantai pasok energi global.

Pasca-gencatan senjata yang sempat disepakati pada April 2026 lalu gagal dipertahankan, militer Iran memperketat kontrolnya di Selat Hormuz. Pihak Iran berupaya memegang kendali penuh navigasi sekaligus memungut tarif melintas bagi kapal-kapal asing, hak kontrol yang belum pernah dieksekusi Iran sebelum perang berkecamuk. Perang yang telah berlangsung lebih dari lima bulan ini menelan biaya miliaran dolar bagi AS dan sekutunya. Meskipun digempur sanksi dan tekanan militer, Iran terbukti masih memiliki kapasitas tempur untuk meluncurkan rudal dan drone yang menyasar armada komersial maupun aset militer AS di kawasan Timur Tengah.