Detak Media — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar pertemuan khusus dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman di Washington. Pertemuan tingkat tinggi tersebut berfokus pada pembahasan eskalasi konflik militer yang kian memanas dengan Iran.
Pemerintah AS pekan ini secara intensif menjamu sejumlah pejabat senior bidang pertahanan dan intelijen dari Israel serta Arab Saudi di Washington. Konsultasi intensif ini dilakukan di tengah pertimbangan matang Gedung Putih terkait potensi peluncuran serangan militer ke kawasan tersebut.
“Presiden Trump bertemu dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman,” ungkap pejabat AS.
Jurnalis Axios Barak Ravid, melalui unggahannya di platform X, menyebutkan Pangeran Khalid bertindak selaku utusan khusus untuk menyampaikan pesan penting dari Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).
“Menteri Pertahanan Arab Saudi menyampaikan pesan dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) kepada Trump mengenai perang dengan Iran dan meningkatnya ketegangan di kawasan,” tulis Ravid.
Sebelum melakukan pembicaraan langsung dengan Trump, Pangeran Khalid dilaporkan telah melakukan pertemuan dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Kedua pemimpin membahas dinamika keamanan kawasan yang terus memburuk pasca-aksi militer terbaru.
Eskalasi ketegangan ini memuncak setelah aksi militer bersama yang diluncurkan pasukan gabungan AS dan Arab Saudi di wilayah Irak. Pada Selasa (28/7/2026), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi pasukan AS dan Arab Saudi telah melancarkan serangan presisi yang menargetkan tiga individu yang diduga kuat sebagai teroris jaringan pro-Iran di Irak.
Hubungan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase krusial seiring meningkatnya gesekan antara AS bersama sekutu regionalnya, khususnya Arab Saudi dan Israel, melawan pengaruh militer Iran. Keterlibatan kelompok-kelompok milisi yang disokong Iran di Irak dan sejumlah negara tetangga telah lama menjadi titik perhatian utama keamanan AS dan Arab Saudi.
Serangan udara gabungan terbaru di Irak menandai intensifikasi kerja sama pertahanan AS-Arab Saudi dalam menekan proksi Iran. Hal ini sekaligus memicu kekhawatiran global akan potensi pecahnya konflik terbuka berskala lebih luas di kawasan kaya minyak tersebut.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.