— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan adanya kemungkinan besar Selat Hormuz dapat dibuka kembali sepenuhnya dalam waktu dekat, bahkan secepat besok. Langkah ini disebutnya sebagai bagian dari fase pertama perundingan intensif antara AS dan Iran.

Dalam pernyataannya di Oval Office, Trump menekankan bahwa fokus utama negosiasi selanjutnya adalah denuklirisasi total Iran, menegaskan kembali posisi AS bahwa Teheran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.

“Kita akan melihat hasilnya hari ini atau besok. Semuanya akan bergerak cepat. Ini tidak terlalu rumit. Kami sedang membahas pembukaan Selat Hormuz, benar-benar dibuka besok. Sepenuhnya terbuka. Dan itulah Fase 1,” ujar Trump setelah menandatangani Keputusan Presiden mengenai pembentukan Komisi Pasangan Militer Kepresidenan.

Trump menjelaskan bahwa setelah jalur pelayaran strategis dunia tersebut dibuka, negosiasi akan berlanjut pada program nuklir Iran. Pembongkaran kapasitas nuklir Teheran tetap menjadi target utama Amerika Serikat.

“Fase 2 adalah pembahasan mengenai kapasitas nuklir… denuklirisasi Iran harus terjadi. Harus. Namun, tahap pertamanya adalah pembukaan Selat, baru dilanjutkan dengan denuklirisasi yang memakan sedikit waktu. Pendirian kami sangat kokoh: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

Izin Negara Teluk dan Pembatalan Serangan Militer

Trump mengungkapkan bahwa perundingan ini merupakan kesempatan terakhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan. Ia mengklaim AS sejatinya telah menyiapkan serangan militer berskala besar terhadap Iran, namun menundanya setelah menerima permintaan dari sejumlah negara kawasan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, serta pihak Iran sendiri.

“Kami sebenarnya siap memukul mereka sangat keras kemarin, lebih keras dari serangan mana pun sejak Perang Dunia II. Namun, mereka menelepon, begitu pula Arab Saudi, UEA, dan Qatar. Banyak pihak menghubungi saya. Iran tidak ingin diserang dan menyatakan ingin berbicara,” ungkap Trump.

Trump juga menuding kepemimpinan Iran bersikap duplikasi atau bermuka dua. Melalui unggahan di platform Truth Social, ia menyebut pejabat Iran terus menyangkal adanya dialog di hadapan publik, padahal telah menghabiskan waktu berjam-jam dalam diskusi tertutup bersama pejabat AS.

Bantahan Pihak Iran

Pernyataan Trump berbanding terbalik dengan posisi resmi Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah adanya negosiasi langsung maupun tidak langsung dengan AS.

Terkait kesepakatan lalu lintas maritim di Selat Hormuz yang melibatkan Oman, Baghaei menegaskan hal tersebut hanyalah pengaturan teknis demi keselamatan pelayaran kapal, bukan sinyal pembukaan kembali jalur air strategis tersebut secara resmi.

Agenda Lain di Gedung Putih

Di luar isu geopolitik Timur Tengah, dalam kesempatan yang sama Trump meresmikan Keputusan Presiden (Executive Order) untuk membentuk Komisi Pasangan Militer Kepresidenan pertama dalam sejarah AS. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan dukungan dan kesejahteraan bagi keluarga para prajurit militer Amerika.

Pentingnya Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur kemedanan (chokepoint) minyak terpenting di dunia yang menghubungkan Produsen Minyak Teluk Persia (seperti Arab Saudi, Irak, UEA, dan Kuwait) dengan Pasar Global, khususnya kawasan Asia.

Sekitar 20% dari total konsumsi minyak dunia melintasi selat sempit yang diapit oleh Iran dan Oman ini setiap harinya.

Ketegangan di Selat Hormuz kerap meningkat seiring memanasnya hubungan diplomatik dan militer antara AS dan Iran. Penutupan atau gangguan pada lalu lintas kapal tangker di jalur ini selalu berdampak langsung pada melonjaknya harga minyak mentah dunia serta mengancam stabilitas rantai pasok energi global.

Upaya diplomasi yang melibatkan negara-negara tetangga di kawasan Teluk menjadi krusial guna mencegah eskalasi militer terbuka yang berpotensi memicu krisis energi dunia.