— Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan proses negosiasi dengan Iran masih berlangsung, meskipun pihak Iran berulang kali membantahnya. Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa Republik Islam Iran kini menghadapi “kesempatan terakhir sebelum pemenggalan” (last chance before decapitation).

Dalam keterangannya di Gedung Putih, Trump mengungkapkan keputusan untuk melanjutkan negosiasi diambil atas permintaan beberapa negara sekutu di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar. “Kami sedang berbicara (bernegosiasi) saat ini. Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen kesepakatan yang baik. Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan,” ujar Trump menanggapi bantahan dari Kementerian Luar Negeri Iran.

Poin utama negosiasi tersebut berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz serta denuklirisasi total wilayah Iran. Menurut Trump, pembukaan Selat Hormuz bisa saja terjadi dalam waktu sangat singkat, sementara proses denuklirisasi membutuhkan waktu lebih lama.

Eskalasi Militer dan Ketegangan di Selat Hormuz

Konflik terbuka antara AS dan Iran telah berkobar sejak 28 Februari 2026, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan kejutan ke wilayah Iran. Meskipun diplomasi pasang-surut sempat meredakan situasi dalam beberapa periode, konflik skala luas belum sepenuhnya mereda.

Lebih dari lima bulan sejak perang dimulai, Iran terbukti masih memiliki kapasitas untuk meluncurkan rudal serta drone ke arah target AS dan sekutunya. Iran juga tetap mempertahankan cadangan uranium yang telah diperkaya.

Situasi keamanan laut pun masih sangat rentan. Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan, sebuah kapal kargo dihantam oleh proyektil tak dikenal di Selat Hormuz dekat pesisir Oman pada Selasa dini hari. Otoritas setempat masih menyelidiki kerusakan dan korban akibat insiden tersebut.

Pola Gertakan Trump dan Bantahan Iran

Ancaman keras Trump mengikuti pola gertakan yang kerap ia lontarkan. Pekan lalu, Trump sempat mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran secara masif, sebelum akhirnya melunak pada akhir pekan dan menyatakan bahwa dasar-dasar kesepakatan (perimeters) sebenarnya sudah terbentuk.

Di sisi lain, Iran secara tegas membantah adanya dialog langsung dengan AS. Juru Bicaranya, Esmaeil Baqaei, menegaskan negosiasi yang dilakukan pihaknya hanya berfokus pada Oman untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Sejak kesepakatan gencatan senjata sebelumnya runtuh, Iran kembali memblokir jalur perairan tersebut, menghentikan, hingga menembaki kapal-kapal komersial yang melintas.

Menanggapi bantahan Iran, Trump meluapkan kekesalannya melalui media sosial. Ia menyebut sikap Iran bermuka dua dan menegaskan blokade balasan yang diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tidak akan dicabut tanpa adanya kesepakatan resmi atau penyerahan diri secara total dari Iran.

Sebelum perang meluas, kapal-kapal komersial bebas melintas di Selat Hormuz. Namun kini, Iran menuntut kendali penuh dan penarikan retribusi, suatu hal yang ditolak keras oleh otoritas AS.

Penegasan Isu Denuklirisasi

Sejak awal invasi, Trump menegaskan tindakan militer ke Iran sangat penting untuk menghentikan program nuklir negara tersebut. Ia mengulangi pernyataannya soal denuklirisasi Iran adalah harga mati yang harus terjadi.

Meskipun negara-negara Barat menuduh Iran berupaya membuat bom nuklir, pihak Iran terus membantah dan menegaskan pengembangan nuklir mereka murni untuk tujuan sipil dan perdamaian.

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab. Selat ini merupakan titik simpul (chokepoint) minyak paling krusial di dunia, di mana sekitar seperlima (20%) dari total konsumsi minyak mentah global melintas di jalur ini setiap harinya.

Konflik bersenjata dan blokade di Selat Hormuz secara langsung mengancam stabilitas pasokan energi dunia. Hambatan distribusi di perairan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah secara drastis, meningkatkan biaya logistik global, hingga memicu gelombang inflasi yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi banyak negara di seluruh dunia.