— Harga minyak dunia diperkirakan masih berpotensi naik pada Agustus seiring terus menyusutnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) di tengah tingginya permintaan musim panas. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menopang harga, meski pasar tetap mencermati data ketenagakerjaan AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Market Analyst Forex.com Razan Hilal mengatakan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) masih mempertahankan tren bullish dengan bertahan di atas US$ 80 per barel. Penurunan stok minyak AS serta belum meredanya gangguan keamanan di jalur pelayaran utama dunia menjadi faktor yang menjaga harga tetap tinggi.

Menurut Hilal, persediaan minyak mentah AS turun sekitar 7,2 juta barel, sehingga kembali mendekati level terendah tahun ini. Penurunan tersebut terjadi pada periode puncak konsumsi bahan bakar selama musim panas, ketika permintaan energi meningkat.

Di saat yang sama, risiko keamanan di Selat Hormuz serta Bab el-Mandeb/Laut Merah masih membayangi pasokan energi global dan mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak.

“Fokus utama pasar saat ini adalah apakah ketegangan geopolitik dapat benar-benar mereda sehingga jalur pelayaran kembali aman, atau justru gangguan yang ada terus menopang harga minyak di level tinggi,” ujar Hilal dalam risetnya.

Secara teknikal, lanjut Hilal, harga minyak WTI berhasil bertahan di area support US$ 77 per barel, yang merupakan level Fibonacci retracement 61,8% dari kenaikan harga sepanjang Juli. Selama harga mampu bertahan di atas US$ 81 per barel, tren kenaikan dinilai masih tetap kuat. Apabila berhasil menembus level US$ 86 per barel, peluang penguatan diperkirakan semakin besar.

Target kenaikan pertama berada di US$ 87,40 per barel, kemudian menuju US$ 93,70 per barel. Area tersebut menjadi zona yang diperkirakan memicu aksi ambil untung sekaligus merupakan resistance teknikal penting sejak Maret 2026. Jika harga berhasil menembus US$ 93,70 per barel, kenaikan selanjutnya berpotensi mengarah ke US$ 104 per barel.

Menurut Hilal, skenario tersebut kemungkinan terjadi apabila ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap meningkat.

Risiko Koreksi

Di sisi lain, tekanan jual dapat kembali muncul apabila harga minyak turun di bawah US$ 80 per barel. Jika level support US$ 77 per barel ditembus, harga berpotensi melemah menuju kisaran US$ 72 hingga US$ 66,50 per barel. Area tersebut menjadi level teknikal yang sangat penting karena sejak 2019 berulang kali berfungsi sebagai support maupun resistance.

Apabila harga ditutup di bawah US$ 66,50 per barel secara mingguan, peluang penurunan menuju US$ 55 per barel akan semakin terbuka. Skenario itu juga mengindikasikan pasar mulai memperkirakan meredanya konflik geopolitik dalam jangka panjang sehingga tekanan inflasi global berpotensi berkurang.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS pekan ini, terutama laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat (7/8/2026). Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika pasar tenaga kerja AS tetap kuat, peluang suku bunga bertahan tinggi akan meningkat dan berpotensi memengaruhi prospek permintaan minyak.

Sebaliknya, apabila data ketenagakerjaan lebih lemah dari perkiraan, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali menguat dan menjadi sentimen positif bagi pasar komoditas, termasuk minyak dunia.