Detak Media — Pemerintah Indonesia akan segera meluncurkan kebijakan stimulus ekonomi untuk kendaraan listrik dalam waktu dua hingga tiga minggu mendatang. Pengumuman resmi mengenai stimulus ini akan disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa stimulus tersebut akan mencakup insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga 100% atas Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan listrik. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan insentif sebesar 40% untuk jenis mobil listrik tertentu.
“Saya kira dalam dua atau tiga minggu ke depan, Presiden (Prabowo Subianto) akan meluncurkan stimulus baru untuk kendaraan listrik, termasuk untuk sekitar 500 ribu sepeda motor listrik serta mobil listrik,” ujar Purbaya dalam Gaikindo International Automotive Conference pada Selasa (4/8/2026).
Purbaya menambahkan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah menyebabkan kenaikan harga minyak di pasar dunia. Tingginya harga minyak dunia diperkirakan akan berdampak dalam jangka panjang, sehingga pemerintah perlu bekerja secara adaptif untuk mengantisipasi tekanan harga minyak global.
“Oleh karena itu, kita perlu melakukan penyesuaian. Pemerintahan Presiden Prabowo bertekad untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap impor minyak secara signifikan. Itulah sebabnya kami mendorong penggunaan kendaraan listrik, dan kami akan terus melanjutkan upaya tersebut,” terang Purbaya.
Lebih lanjut, Menkeu menyoroti pentingnya peran industri otomotif sebagai salah satu motor penggerak perekonomian nasional. Industri ini tidak hanya mendorong konsumsi masyarakat, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap sektor manufaktur, investasi, dan penyerapan tenaga kerja.
Oleh karena itu, sinergi antara regulasi pemerintah dan kesiapan pelaku industri di bawah naungan Gaikindo sangat dibutuhkan untuk memperkuat daya saing industri otomotif nasional. Purbaya menilai kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan industri sekaligus mengakselerasi transformasi menuju kendaraan berteknologi rendah emisi.
Purbaya juga menyampaikan bahwa permintaan kendaraan nasional masih dalam fase penyesuaian pasca puncak yang terjadi pada tahun 2022. Pertumbuhan industri kini semakin bergeser dari kendaraan konvensional ke kendaraan berteknologi rendah emisi. Pangsa pasar kendaraan listrik dilaporkan telah meningkat 15 kali lipat dalam empat tahun terakhir.
“Tantangan ke depan bukan lagi hanya mendorong adopsi kendaraan listrik, tetapi juga memaksimalkan nilai tambah domestik, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional,” pungkas Purbaya.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.