Detak Media — JAKARTA – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menunjukkan pergerakan positif dengan membalikkan keadaan melalui aksi beli bersih (net buy) investor asing senilai Rp 116 miliar pada perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026. Pergerakan ini berbanding terbalik dengan sehari sebelumnya, 3 Agustus 2026, di mana saham emiten bank besar ini mengalami tekanan jual bersih asing (net sell) senilai Rp 62,2 miliar.
Pada penutupan perdagangan Selasa, harga saham BBRI ditutup menguat 1,32% ke level Rp 3.060. Angka ini berbeda dengan penutupan sehari sebelumnya yang tercatat memerah 0,66%. Total sebanyak 191,12 juta saham BBRI diperdagangkan dengan frekuensi 33.111 kali, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp 579,57 miliar.
Menyikapi pergerakan saham BBRI, CGS International Sekuritas memberikan rekomendasi ‘speculative buy’ untuk perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026. Analis sekuritas tersebut menetapkan level support pada angka 3.000, dengan rekomendasi cutloss jika harga menembus di bawah 2.940. “Jika tidak break di bawah 3.000, potensi naik ke 3.120-3.180 dalam jangka pendek,” papar CGS International Sekuritas dalam analisisnya.
Pelaku pasar modal diketahui masih menanti laporan keuangan semester I-2026 dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Hingga 31 Juli 2026, laporan keuangan untuk enam bulan pertama tahun ini belum dipublikasikan. Bank Rakyat Indonesia sendiri telah menyatakan bahwa laporan keuangan periode 30 Juni 2026 akan diaudit oleh akuntan publik sebelum disampaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sebelumnya, BRI dan entitas anak membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp 15,5 triliun pada kuartal I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 14% secara tahunan (year on year/yoy). BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam pembaruan kinerjanya di kuartal I-2026 menilai kinerja BBRI masih sejalan dengan kualitas yang sehat.
BRIDS mencatat, Net Interest Margin (NIM) BBRI tetap resilien meskipun ada tekanan pada Cost of Funds (CoF). Sementara itu, Cost of Credit (CoC) turun signifikan, dan pertumbuhan berbasis wholesale berhasil mengkompensasi pelemahan di segmen konsumen. “Story utama dari BBRI adalah pergeseran mesin pertumbuhan dari segmen micro/consumer ke segmen corporate/commercial. Ini dilakukan untuk proteksi asset quality namun berpotensi menekan margin dalam jangka panjang karena corporate loan yield yang lebih rendah,” tulis BRIDS.
BRIDS menambahkan, Price to Book Value (PBV) BBRI berada di angka 1,4x untuk Return on Equity (ROE) 18%+ dan dividend yield 10-12%. Angka ini dianggap sebagai anomali historis yang besar, mengindikasikan pasar masih mem-pricing-in skenario bearish yang belum terjadi. “Dividend yield 10-12% mendekati return Surat Berharga Negara (SBN), jadi setiap koreksi harga saham sama dengan yield naik lebih menarik,” pungkas BRIDS.
Sebagai informasi, untuk tahun buku 2025, Bank Rakyat Indonesia membagikan dividen total Rp 52,10 triliun atau Rp 345 per saham. Dividen tersebut terdiri dari dividen interim Rp 20,63 triliun (Rp 137 per saham) dan dividen final Rp 31,47 triliun (Rp 209 per saham).
Pergerakan saham BBRI pada Jumat, 31 Juli 2026, juga menunjukkan tren positif dengan penguatan 1,67% ke Rp 3.040, disertai net buy investor asing Rp 233,22 miliar. Sebelumnya, pada Kamis, 30 Juli 2026, saham BBRI tercatat naik 2,40%. Kenaikan ini terjadi setelah saham emiten bank besar ini mengalami pelemahan di zona merah pada periode 22-29 Juli 2026.
Ikuti Detak Media

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.